Minggu, 26 Agustus 2012

 
I.       PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang

          Sektor kelautan dan perikanan diharapkan menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusi dalam perhitungan Product Domestic Bruto (PDB) yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Salah satu keberhasilan sektor kelautan dan perikanan dapat dilihat dari indikator peningkatan produksi perikanan setiap tahunnya. Selaras dengan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, yaitu Indonesia menjadi penghasil produk perikanan terbesar pada tahun 2015 maka perikanan budidaya dituntut menjadi kontributor utama yang dapat meningkatkan produksinya guna mencapai visi tersebut. Target produksi perikanan budidaya ditetapkan sebesar 16,89 juta ton pada tahun 2014 atau meningkat sebesar kurang lebih  4 kali lipat dari tahun 2009 yaitu sebesar 4,78 juta ton, tentunya berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan visi tersebut (Ahda, Alfida., dkk. 2009)

         Budidaya kakap merah tentunya menjadi salah satu alternatif untuk mewujudkan visi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ikan kakap merah atau sering disebut red snapper merupakan salah satu jenis ikan air laut yang memiliki nilai ekonomis  yang cukup tinggi. Ikan kakap merah banyak dijumpai di perairan Indonesia dan selama ini banyak didapatkan hanya dari alam. Selain melalui penangkapan produksi kakap merah dapat juga diperoleh melalui usaha budidaya, namun sampai saat ini ketersediaan benih di alam masih tergantung dari faktor musiman (Supria dan Ruswantoro, 2011).   

        Beberapa kelemahan apabila usaha budidaya tergantung dari benih yang berasal dari alam antara lain kualitas dan kuantitas yang kurang terjamin karena sifat pemijahan yang musiman, oleh karena itu perlu diupayakan melalui kegiatan pembenihan pada bak terkontrol sehingga, kebutuhan benih kakap merah yang semula hanya tergantung dari ketersediaan di alam dapat memenuhi untuk kegiatan budidaya.

       Keberhasilan dalam kegiatan pembenihan kakap merah sangat ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya penanganan induk, metode pemijahan, penanganan telur, pemeliharaan larva, dan penyadiaan pakan alami yang tepat mutu baik ukuran, jumlah dan jadwal pemberiannya. Untuk itu perlu dilakukan upaya penanganan secara tepat untuk memperoleh hasil secara optimal dalam kegiatan pembenihan pada bak terkontrol secara kontinyu, sehingga kegiatan budidaya dapat berjalan secara lancar tanpa tergantung ketersediaan benih dari alam dan diharapkan dapat mendorong tercapainya visi Kementerian Kelautan dan Perikanan.
1.2       Tujuan 
            Tujuan penulisan Tugas Akhir berdasarkan kegiatan Praktik Kerja Lapang adalah :  
        1) Menambah pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kakap merah  secara masal.
      2) Mengetahui jumlah telur (fekunditas) dan derajat penetasan (HR) ikan kakap merah  dalam pemijahan secara masal. 
        3) Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan derajat penetasan telur kakap merah.
1.3       Kontribusi
Laporan Tugas Akhir  ini diharapkan sebagai salah satu penyaluran ilmu teknologi tepat guna terhadap masyarakat secara umum dan memberikan pengetahuan bagi penulis tentang  pembenihan ikan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal) secara masal pada
II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Klasifikasi dan Morfologi Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal) 

                         Nama kakap diberikan kepada kelompok ikan yang termasuk dalam tiga genus yaitu Lutjanus, Latidae dan Labotidae. Jenis-jenis yang termasuk Lutjanidae biasanya disebut kakap merah, dan jenis lainnya yaitu Lates calcarifer yang termasuk suku Latidae umumnya disebut kakap putih dan Lobotos surinamensis yang termasuk suku Lobotidae disebut kakap batu (Hutomo., et al. 1986 dalam Kurniawan, B. A. 2001).

         Ikan kakap merah yang tergolong keluarga Lutjanidae mempunyai klasifikasi sebagai berikut (Saanin, 1984 dalam Batara, R. J. 2008). 

                                   Kingdom         : Animalia
                                   Filum               : Chordata
                                   Sub filum        : Vertebrata
                                   Kelas               : Pisces
                                   Sub Kelas       : Teleostei
                                   Ordo                : Percomorphi
                                   Sub Ordo        : Perciodea
                                   Famili               : Lutjanidae
                                   Genus              : Lutjanus 
                                   Spesies            : Lutjanus argentimaculatus forsscal 

                         Ciri-ciri morfologi ikan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal) memiliki bentuk tubuh yang memanjang dan agak pipih (depres), letak mulut berada di tengah (terminal), jenis ikan ini mempunyai gigi kecil yang tajam namun tersusun dengan  jarang (villiform) umumnya gigi tersebut tidak nampak jika dilihat hanya sekilas, sisik tersusun secara rapat dengan operculum yang tajam. Warna tubuh ikan ini pada bagian dorsal/ punggung berwarna merah gelap sedangkan warna tubuh  pada bagian ventral/ perut berwarna merah pudar,  sirip ekor ikan ini berbentuk cagak, gambar ikan kakap merah dapat dilihat pada Gambar 1.
 
                                                                            (Lutjanus argentimaculatus forsskal).
Sumber : (Saanin, 1984 dalam Batara, R. J. 2008)
2.2         Pakan
2.2.1   Kebiasaan makan
    Menurut Effendi (1997) dalam Priyadi, A., dkk (2009), pakan merupakan faktor pengendali yang penting dalam menghasilkan sejumlah ikan disuatu perairan Adapun pengaruh pakan diantaranya : sebagai faktor yang menentukan bagi populasi untuk tumbuh dan berkembang dalam suatu perairan tersebut. Di alam, banyak terdapat berbagai jenis makanan yang tersedia bagi ikan, tentunya setiap ikan telah memiliki selera dan kebiasaan makan yang berbeda-beda sesuai dengan morfologi dan adaptasi yang telah dilakukan oleh ikan tersebut (Nikolsky, 1963 dalam Kadarwati, L. 1997).
Menurut Effendi (1997) dalam Priyadi, A., dkk (2009), kebiasaan makan (food habit) berhubungan dengan jenis, kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara memakan (feeding habits) berhubungan dengan waktu, tempat dan bagaimana cara ikan memperoleh makanannya. Effendi (1997) dalam Priyadi, A., dkk (2009) menambahkan bahwa faktor- faktor yang menentukan jenis ikan memakan suatu organisme adalah ukuran, ketersediaan, warna, rasa, tekstur makanan dan selera ikan terhadap makanan. Selanjutnya dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies ikan adalah umur, tempat dan waktu.
Jenis ikan kakap merah termasuk ikan carnivor. Ikan ini merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Aktivitas ikan nocturnal tidak seaktif ikan diurnal atau ikan yang aktif pada waktu siang hari. Pergerakan ikan nocturnal  cenderung lambat ataupun pasif, adapun arah pergerakannya tidak seluas ikan diurnal. Diduga ikan nocturnal lebih banyak menggunakan indra perasa dan penciuman dibandingkan indra penglihatannya. Bola mata yang besar menunjukkan ikan nocturnal menggunakan indra penglihatannya untuk ambang batas intensitas cahaya tertentu, tetapi tidak untuk intensitas cahaya yang kuat (Iskandar dan Mawardi, 1997 dalam Wontek, R. 2012).
Ikan kakap merah lebih suka memangsa jenis-jenis ikan yang berukuran lebih kecil dari pada ukuran tubuh ikan tersebut. Adapun jenis-jenis makanannya  berupa crustacea, gastropoda serta berbagai jenis plankton namun utamanya adalah urochordata. Pada umumnya kakap merah yang berukuran besar baik panjang maupun tinggi tubuhnya, memangsa jenis-jenis ikan maupun invertebrata berukuran lebih kecil dari pada ukuran bukaan mulutnya yang berada didekat permukaan di sekitar perairan karang. Jenis kakap merah ini biasanya menempati daerah perairan pantai berkarang hingga kedalaman 100 meter (Sunyoto dan Mustahal, 2002 dalam Batara, R. J. 2008).
2.2.2   Jenis pakan
   Pakan yang digunakan pada pemeliharaan ikan kakap merah secara umum adalah ikan rucah seperti kuniran, selar, tanjan dan kurisi (Supria dan Ruswantoro, 2011). Pakan yang diberikan haruslah sesuai dengan bukaan mulut dan kandungan nutrisinya diperlukan dalam proses perkembangan gonad ikan. Namun penggunaan ikan rucah sebagai pakan ikan kakap merah memiliki beberapa kelemahan yaitu : ketersediaan pakan tidak kontinyu, memerlukan waktu dan tenaga untuk penyiapan, mutu pakan tidak terjamin, mempunyai resiko terhadap penularan penyakit. 
Kualitas ikan rucah yang jelek ditandai dengan ikan yang membusuk, bau yang tidak sedap. Ikan yang telah terkontaminasi sebaiknya tidak digunakan sebagai pakan. Kelebihan Ikan rucah segar diantaranya mempunyai kualitas nutrisi yang lebih baik dari pada ikan rucah yang dibekukan, akan tetapi memiliki resiko sebagai penularan bibit penyakit (Sutarma, dkk., 2004 dalam Setiawan, Adi. 2011).
 
2.3         Sifat Hidup dan Pemijahan 

              Ikan kakap merah biasanya hidup secara soliter atau menyendiri, ikan ini dilengkapi dengan gigi tajam yang merupakan adaptasi tingkah laku terhadap makannya dengan tujuan agar mangsa tidak mudah lepas. Ikan kakap merah dewasa umumnya berwarna merah gelap pada punggungnya dan berwarna merah pudar pada bagian perutnya (Gunarso, 1995 dalam Wontek, R. 2012).
              Ikan kakap merah tergolong jenis ikan diecious/ biseksual yaitu ikan yang tidak dijumpai perbedaan antara jantan dan betina secara visual, baik dalam hal struktur tubuh maupun dalam hal warna. Pola reproduksi ikan kakap merah yaitu hermaprodit protandri, dimana pada waktu muda ikan ini berjenis kelamin jantan dan pada masa tua berjenis kelamin betina. Ikan kakap merah rata-rata mencapai tingkat kedewasaan pertama saat panjang tubuhnya telah mencapai 41–51% dari panjang tubuh total atau panjang tubuh maksimum.
               Ikan kakap merah jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang lebih kecil dari pada betina, biasanya ikan yang siap memijah akan muncul ke permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan gelap (antara tanggal 25-30 kalender Hijriah) pada suhu air antara 22oC - 25ºC. Pada saat proses pemijahan secara alami, induk jantan akan mengambil inisiatif yang diawali dengan menyentuh dan menggesekkan tubuh pada salah satu induk betina. Setelah itu baru induk jantan yang lain ikut bergabung, memutari induk betina membentuk spiral sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air. Selain pemijahan secara alami dapat juga menggunakan pemijahan secara buatan yaitu dengan metode rangsang hormonal secara injeksi atau dengan implantasi (Kungvankij, et al. 1986 dalam Kadarwati, L. 1997).
               Ikan kakap merah yang berukuran besar akan bertambah pula umur maksimumnya berkisar antara 15-20 tahun dibandingkan yang berukuran kecil, ikan ini umumnya menghuni perairan dangkal hingga kedalaman 60-100 meter di bawah permukaan laut (Gunarso, 1995 dalam Wontek, R. 2012).

2.4         Fertilisasi dan  Perkembangan Embrio Ikan 

               Perkembangan embrio ikan diawali dengan fertilisasi yang terjadi di luar tubuh (eksternal). Fertilisasi adalah proses bersatunya inti sel telur dengan inti sperma membentuk zigot. Setelah proses fertilisasi kemudian terjadi proses pembelahan zigot secara cepat menjadi unit- unit sel yang lebih kecil yang disebut morula, kemudian membentuk blastula, 6 jam kemudian terbentuk embrio awal, disusul dengan terbentuknya miomer awal, miomer tengah, dan miomer akhir. Telur yang matang sebagian besar terdiri atas lemak, protein dan karbohidrat (Sumantadinata, 1981 dalam Batara, R. J. 2008). Gambar perkembangan embrio ikan kakap merah Lutjanus argentimaculatus forsskal dapat dilihat pada Lampiran 1. Sedangkan fase perkembangan embrio ikan kakap merah dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perkembangan Embrio Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal).
No
Stadia
Jam
Menit
1
Pembelahan sel
0
20
2
Morula
1
30
3
Blastula
5
30
4
Embrio awal
6
30
5
Miomer awal (tanpa vesikel mata)
10
30
6
Miomer tengah
12
0
7
Miomer akhir (hepar mulai berfungsi)
15
30
8
Menetas
17
45
Sumber : (Doi dan Kohno, 1985 dalam Kadarwati, L. 1997)
2.5         Perkembangan Larva 

         Larva yang baru menetas bersifat transparan, gerakannya lamban, dan masih membawa kuning telur sebagai cadangan makanannya. Butir minyak terletak dibagian tengah bawah. Larva kehabisan cadangan makanan setelah berumur 4-5 hari yaitu pada fase heatchilings pada fase ini terjadi perubahan pola pakan yang semula berasal dari dalam tubuh (endogenous) beralih ke sumber makanan yang berasal dari luar tubuh  (exogenous), pada peralihan fase antara heatchilings dan larva banyak terjadi kematian. Kohno., et al. (1985) dalam Kadarwati, L. (1997) menganalisis sebab-sebab kematian tersebut dengan menghitung jarak antara larva mulai membuka mulut sampai larva mulai makan. Dari hasil analisa tersebut didapatkan bahwa penyerapan butir minyak terjadi antara 92 - 94 jam atau sekitar 4 hari setelah telur dibuahi. Penyerapan kuning telur terjadi antara rentan waktu 71 - 87 jam atau sekitar 3 hari setelah telur menetas, dan jarak waktu antara larva mulai membuka mulut sampai larva mampu mengkonsumsi pakan adalah 69-92 jam setelah telur menetas.
           Tingkat mortalitas pada umur 5 hari terjadi karena adanya keadaan dimana larva mampu makan hanya pada saat kondisi dimana terdapat jumlah pakan yang optimal, sedangkan ada juga yang tidak mampu makan walaupun terdapat jumlah pakan yang optimal. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kesalahan menentukan jadual keterlambatan dalam pemberian pakan, atau dapat juga dikarenakan rendahnya kualitas mutu pakan yang diberikan. (Indradjaja, 1995 dalam Kadarwati, L. 1997)
               Pada hari ke 3 - 8 setelah telur menetas perkembangan organ dalam semakin sempurna, gelembung udara, kantung empedu dan Calon sirip punggung terbentuk pada hari ke-7. Sirip punggung dan sirip dada pada larva berumur 5 hari belum tumbuh namun organ dalam seperti jantung, lambung dan usus sudah mulai berkembang. Pada larva umur 10 hari pigmentasi mata sudah mulai sempurna, sirip punggung dan dada mulai berkembang. (Kohno et al, 1985 dalam Kadarwati, L. 1997)
           Pada larva umur 15 hari sirip punggung dan dada berkembang dan pada umur 20 hari tumbuh duri halus yang semakin kokoh. Pada larva umur 25 hari perkembangan sirip punggung mencapai setengah panjang tubuh, diduga berfungsi sebagai alat keseimbangan dalam bergerak mencari makan dan jika terkena arus larva belum cukup mampu untuk menghindar. Perkembangan identik dengan pertumbuhan yaitu keluarnya satu seri proses tingkah laku dan proses fisiologis yang dimulai dari konsumsi pakan dan diakhiri dengan pengendapan sisa substansi larva (Kungvankij, et al., 1986 dalam Kadarwati, L. 1997)
              Menurut Tiensongrusmee, et al., (1988) dalam Kadarwati, L (1997), terminologi stadia perkembangan larva kakap merah adalah sebagai berikut. 

Heatchilings                : Stadia ini masih mempunyai kuning telur dan butir minyak (0 - 4 hari).
Larva                             : Stadia dimulai dari penyerapan kuning telur sampai awal stadia burayak (5 - 21 hari).
Burayak                        : Stadia dimulai saat larva kakap mengalami metamorphosis lengkap, bentuk ikan sudah seperti 
                                         bentuk  dewasa (22 - 40 hari).
Juwana                         : Mulai dari burayak sampai matang gonad pertama (41 hari - 2 tahun) 


 2.6         Kepadatan Larva 

          Kepadatan larva sangat penting kaitannya dalam setiap kegiatan pembenihan, pada pemeliharaan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal), semakin tinggi padat tebar pemeliharaan larva maka semakin rendah laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupannya. Padat pemeliharaan yang tinggi akan meningkatkan mortalitas, karena semakin tinggi padat penebaran larva mutu lingkungan perairan akan menurun seiring dengan lamanya pemeliharaan (Williams, et al., 1985 dalam Kadarwati, L. 1997).
              Hasil uji rekayasa budidaya ikan kerapu dengan kepadatan yang berbeda, oleh Sulistinarto (1995) dalam Kadarwati, L (1997), membuktikan bahwa semakin tinggi kepadatan biota, kadar amoniak semakin tinggi pula yaitu mencapai 0,5-2,1 ppm sehingga mengakibatkan mortalitas semakin tinggi dan tingkat kelulus hidupan hanya sebesar 5-20%. Sedangkan pada pengujian pemeliharaan larva kerapu bebek dengan kepadatan yang berbeda oleh Aslianti, T (1996) dalam Aslianti, T dan Agus Priyono (2009), menunjukan bahwa kandungan amoniak pada semua perlakuan cenderung meningkat sesuai dengan kepadatan larva.
             Kepadatan yang tinggi juga menyebabkan persaingan dalam mendapatkan ruang gerak, oksigen dan makanan. Terbentuknya zat beracun hasil dari sisa metabolisme larva, juga meningkatkan terjadinya kontak antara parasit dan larva sehingga memudahkan penyebaran penyakit dari satu larva ke larva lain (Asikin, 1985 dalam Fitri, A. D. P. dkk. 2004) kecuali faktor lingkungan namun faktor biologis dari larva tetap ikut berperan. Pengujian pemeliharaan larva kakap merah yang dilakukan oleh Indradjaja (1995) dalam Kadarwati, L (1997) menunjukan bahwa pada kepadatan 50-100 larva per liter mortalitas larva mencapai hampir 90% sebelum berumur 35 hari. 


2.7       Pakan dan Tingkat Kelulushidupan  

       Tingkat kelulushidupan benih terutama pada stadia awal ditentukan oleh ketersediaan pakan. Setelah cadangan makanan dalam telur habis, larva harus segera memperoleh makanan dari luar tubuhnya. Bila larva tidak berhasil menemukan makanan yang sesuai terkait dengan kandungan nutrisi dan ukuran pakan, maka larva akan kelaparan dan kemudian mati dalam kurun waktu yang singkat Djarijah (1995) dalam Supria dan Suciantoro (2007).
        Saat larva kakap merah membuka mulut untuk pertama kali, bukaan mulutnya berkisar 145 - 200 mikron (Doi dan Kohno, 1985 dalam Kadarwati, L. 1997). Oleh karena itu ukuran pakan yang diberikan harus lebih kecil dari bukaan mulut larva. Larva kakap merah menyukai pakan yang bergerak, sehingga jenis pakan hidup sangat tepat untuk diberikan pada larva.
         Kurniastuty (1992) menyatakan bahwa sebagian besar larva ikan laut bersifat planktonis dan memberi tanggapan cepat terhadap pakan yang bergerak. Antara lain : Brachionus plicatilis, Artemia salina, Nannochloropsis sp. Pakan tersebut mengandung omega 3 HUFA (Highly Unsaturated Fatty Acids) dan beberapa unsur gizi lain yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan kelangsungan hidup larva kakap merah (Juwana, 1985 dalam Kadarwati, L. 1997).
        Juwana (1985) dalam Kadarwati, L (1997) menambahkan bahwa kelenjar pencernaan ikan carnivor menghasilkan enzim-enzim pemecah protein, keaktifan enzim tersebut dipengaruhi oleh kadar protein dalam pakan  yang mencapai keaktifan apabila pakan yang dicerna mengandung protein 40-60%. Bila kadar protein rendah, enzim-enzim tersebut membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri agar mencapai puncak keaktifan.
          Selama periode pemeliharaan 35 hari terdapat dua masa kritis. Masa kritis pertama pada hari ke- 4 sampai 7, dimana pada saat itu dijumpai kematian larva lebih dari 50%. Masa kritis kedua terjadi pada rentan waktu hari ke- 18 sampai 21, yaitu pada masa pembentukan gelembung renang (Supriya., dkk. 2008) 


2.8       Nilai Gizi Pakan Hidup 

           Penelitian yang dilakukan oleh Watanabe., et al.  (1983) dalam Kadarwati, L (1997) menunjukkan bahwa kebutuhan asam lemak esensial (Essential Fatty Acids) pada berbagai jenis ikan tidak sama. Asam lemak esensial adalah  asam lemak yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh suatu mahluk hidup di dalam tubuhnya, atau dapat dibuat namun tidak dapat mencukupi kebutuhan minimal yang diperlukan untuk memenuhi fungsi fisiologinya adapun contoh diantaranya yaitu histidine, isoleucine, leucine, lysine, methionine, phenylalanine, threonine, tryptophan, dan valine. 
          Kandungan omega 3 HUFA dalam pakan merupakan faktor penting dalam nilai mutu pakan hidup, kekurangan omega 3 HUFA dapat mengakibatkan tingkat kematian larva yang tinggi dan pertumbuhan yang lambat, serta tidak sempurnanya pembentukan dan fungsi gelembung renang pada larva ikan (Webster dan Lovell, 1990 dalam Kadarwati, L. 1997). Peka terhadap penanganan dan mudah takut jika diganggu merupakan gejala awal dari kekurangan asam lemak tak jenuh (HUFA) yang diperlihatkan oleh larva. 


2.9       Kualitas Air 

        Menurut Doi dan Kohno (1985) dalam Kadarwati, L (1997), dalam pemeliharaan kakap merah (larva dan dewasa) dibutuhkan lingkungan dengan kualitas air yang baik, antara lain :  Suhu berkisar 28-31o C, oksigen terlarut (DO) berkisar 5-7 ppm, amoniak < 0,1 ppm, dan nitrit

  III.       METODE PELAKSANAAN
3.1       Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penulisan Tugas Akhir (TA) ini disusun berdasarkan kegiatan Praktik Kerja Lapang tanggal 27 Februari - 27 April 2012 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.
3.2       Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan Tugas Akhir dapat dilihat pada Tabel 3.

 Tabel 3. Alat dan Bahan Yang Digunakan Dalam Pembenihan Kakap Merah di BBPBL Lampung
Alat
Bahan
Skopnet
Ikan kuniran
Scrennet
Ever-e
Selang sipon
Kapsul spirulina
Bekerglass
Epicore LHF-1
Ember
Epicore LHF- 2
Gayung
Betadine
Akuarium
methylene blue
Baskom
Acriflafine
Bak
Artemia salina
Bak fiber kapasitas 3 ton, 10 ton dan 50 ton.
Copepoda
Sikat
Rotifera
Kain kasar
Diapanosoma
Sumber : (Praktik Kerja Lapang BBPBL, 2012)
3.3       Metode Pelaksanaan
Metode pengambilan data yang dilaksanakan menggunakan dua cara, yaitu:

3.3.1    Metode Primer
Metode primer adalah metode pengambilan data secara langsung selama kegiatan Praktek Kerja Lapang di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung yang meliputi :
a)  Persiapan media
Sebelum proses pemijahan terjadi, persiapan media merupakan salah satu hal terpenting, dikarenakan pada saat pemijahan berlangsung induk sangat membutuhkan tempat yang bersih, kondusif dan nyaman guna terhindarnya serangan patogen terhadap induk maupun telur dari hasil pemijahan. Persiapan media yang digunakan diantaranya dengan cara penyiraman bak fiber bulat berkapasitas 50 m3 dengan larutan kaporit sebanyak 3-5 ppm, penyiraman dilakukan secara merata sampai bak fiber terlapisi oleh larutan kaporit. Setelah bak fiber didiamkan selama 2 jam, kemudian bak fiber disikat sampai bersih agar lumut yang menempel pada dinding dan dasar bak fiber hilang. Setelah itu bak dibilas menggunakan air bersih dan kemudian dikeringkan selama 2 hari. Setelah 2  hari dikeringkan barulah bak fiber diisi air yang nantinya akan digunakan dalam proses pemijahan.  
b)  Seleksi induk
Seleksi induk dilaksanakan dengan tujuan agar larva atau calon benih yang didapat memiliki nilai kualitas dan kuantitas yang baik. Seleksi induk yang dilaksanakan diantaranya dengan cara menghitung bobot dan panjang induk ikan kakap merah. Seleksi bobot induk kakap merah dilakukan dengan cara meletakkan induk ke dalam timbangan yang sebelumnya induk telah dibius dengan minyak cengkeh dengan dosis 1 ppm. Seleksi panjang induk dilakukan dengan cara mengukur panjang tubuh induk kakap merah dimulai dari ujung kepala sampai dengan pangkal ekor.
c)   Pemijahan
Proses pengamatan pemijahan induk kakap merah tidak dilaksanakan namun menurut literatur pemijahan induk kakap merah terjadi pada malam hari antara pukul 18.00 - 22.00 WIB. Pemijahan yang dilakukan secara alami dengan cara memanipulasi lingkungan. Pada waktu pagi hari ketinggian air diturunkan sampai 20 - 30 cm, dan pada waktu sore hari air dinaikkan sampai lubang pemanenan telur menuju egg colector dengan ketinggian 145 cm yang tidak lupa pada bagian mulut fiber glass ditutup dengan jaring agar induk tidak melompat. Tujuan memanipulasi lingkungan yaitu untuk merangsang induk kakap merah menggunakan fluktuasi suhu agar induk mau memijah.
d)  Pemanenan telur
Telur dipanen pada waktu pagi hari dikarenakan suhu pada pagi hari masih rendah, pemanenan dilakukan menggunakan skopnet dengan mata jaring 200 - 500 mikron, teknik pemanenan yang dilakukan dengan cara mengambil telur yang hanya ada pada permukaan air pada egg colector karena telur yang bagus adalah telur yang dilapisi oleh minyak sehingga telur berada pada permukaan air.
e)   Derajat pembuahan (Fertilization Rate)
Perhitungan derajat penetasan kakap merah ini dilaksanakan setelah telur selesai dipanen dan terkumpul dalam akuarium inkubator yang diberi aerasi,  metode pelaksanaannya yaitu dengan mengangkat aerasi kemudian didiamkan selama beberapa saat, kemudian telur yang mengendap di dasar akuarium disipon. Setelah penyiponan selesai aerasi kembali dimasukkan ke akuarium inkubator dan kemudian dihitung kembali. Perhitungan Fertiliszation Rate menggunakan rumus di bawah ini :
                                                                   
                                                                        FR= Jd/Jk x 100%
                                                            Sumber : (Saleh, Rachman. 2009)
Keterangan :
FR       : Derajat pembuahan
Jd        : Jumlah telur yang dibuahi
Jk         : Jumlah telur secara keseluruhan
f)    Inkubasi telur
Inkubasi telur dilakukan setelah pemanenan telur. Proses yang dilakukan adalah dengan cara memindahkan telur dari baskom berkapasitas 5 liter ke dalam wadah berupa akuarium berkapasitas 90 liter. Telur yang sudah dipanen dimasukkan ke dalam akuarium yang sudah diisi air dengan volume 70 - 80 liter dan diberi aerasi yang cukup agar telur menyebar secara merata dan proses penghitugannya dapat berjalan secara akurat.
g)  Derajat penetasan telur (Heatching Rate)
Perhitungan derajat penetasan larva kakap merah dilakukan setelah telur diinkubasi selama  24 jam. Sampel yang dihitung hanya berupa telur yang sudah menetas/ larva berbentuk seperti jarum. Perhitungan Heatching Rate yang dilakukan dengan rumus di bawah ini.

                                                                      HR(%) = Pt/Po x 100% 
Sumber : (Saleh, Rachman. 2009)

Keterangan :
HR    :  Derajat penetasan (%)
Pt      :  Jumlah telur yang menetas
Po     :  Jumlah telur yang dibuahi
h)  Pemeliharaan larva
Pemeliharaan larva yang dilaksanakan meliputi pemberian pakan yang berupa pakan alami dan pakan buatan dengan frekuensi untuk pakan alami 1 hari 2 kali, jumlah pakan yang diberikan untuk larva sebanyak 8 liter dengan kepadatan 5-8 ind/ ml. Sedangkan untuk pakan buatan, jumlah yang diberikan sebanyak 8 liter dengan dosis 20 ppm. Jenis pakan alami yang digunakan diantaranya Nannocloropsis, Skeletonema, Rotifera, Branchionus, Artemia salina, Copepoda, Diapanosoma, pakan yang diberikan sesuai dengan umur dan bukaan mulut larva yang dipelihara, pakan buatan yang digunakan dalam proses pemeliharaan larva diantaranya Epicore LHF-1, Epicore LHF-2 dan Love Larva no 1. Selain itu setiap 5 hari sekali media pemeliharaan diberi probiotik dengan dosis 0,625 ppt, adapun fungsi dari probiotik ini adalah untuk menurunkan tingkat kekeruhan air pada media pemeliharaan larva.
i)    Panen benih
Panen benih dilakukan pada umur 60 hari dengan cara memasang happa bermata jaring 200-500 mikron dengan ukuran happa 100 cm x 30 cm x 30 cm pada lubang outlet. Kemudian mempersiapkan media penampungan atau pendederan yang telah diseting atau dipasang aerasi, pengisian air dan pemberian pakan alami.
Sebelum dilakukan pemanenan, benih dipuasakan atau tidak diberi pakan dengan tujuan agar benih tidak muntah dan stress pada saat pemanenan. Setelah semuanya dipersiapkan barulah lubang outlet dibuka secara perlahan, benih akan masuk ke dalam happa yang telah dipersiapkan sebelumnya kemudian larva dipindahkan menuju bak pendederan dengan menggunakan skopnet dan baskom, pemindahan ini dilakukan secara cepat dan hati-hati. Tingkat kelangsungan hidup benih yang dipanen dihitung menggunakan rumus di bawah ini : 

                                                                                         SR = Nt/No x 100%
                                                                              Sumber : (Saleh, Rachman. 2009)
Keterangan :
SR     : Tingkat kelangsungan hidup
Nt      : Jumlah ikan di akhir pemeliharaan 
No     : Jumlah ikan di awal pemeliharaan 

3.3.2    Metode Sekunder
Metode sekunder adalah metode pengambilan data dengan cara studi pustaka serta mengadakan interview/ tanya jawab kepada pembimbing lapang, teknisi serta karyawan setempat yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan pembenihan kakap merah. 

 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
  
4.1         Persiapan media pemijahan 
            Media yang digunakan dalam proses pemijahan berupa bak beton berbentuk bulat dengan kapasitas 50 m3. Persiapan media yang dilakukan adalah dengan menyiram media pemeliharaan induk menggunakan larutan kaporit dengan dosis 3-5 ppm, hal tersebut sejalan dengan pendapat Supria dan Ruswantoro (2011) bahwa dosis pemakaian kaporit sebesar 4 ppm. Tujuan dari penyiraman tersebut adalah untuk menghilangkan lumut, patogen dan non patogen yang menempel pada dinding dan dasar bak pemeliharaan induk, penyiraman dilakukan secara merata sampai bak fiber terlapisi oleh larutan kaporit. Setelah bak fiber didiamkan selama 2 jam, kemudian bak fiber disikat sampai bersih agar lumut yang menempel pada dinding dan dasar bak fiber hilang. Setelah itu bak dibilas menggunakan air bersih dan kemudian dikeringkan selama 2 hari. Setelah 2  hari dikeringkan barulah bak fiber diisi air yang nantinya akan digunakan dalam proses pemijahan.
4.2         Pemeliharaan induk  
             Pemeliharaan induk kakap merah di BBPBL Lampung diawali dengan pemberian pakan berupa ikan rucah segar. Ikan yang digunakan dari jenis ikan kuniran dengan persentase pemberian pakan sebesar 3 - 5 %  dari bobot biomasa, dengan frekuensi pemberian sebanyak 1 hari sekali pada pukul 08.00 WIB. Selain itu pemberian ever-e dan spirulina diberikan setiap 2 kali dalam seminggu adapaun kandungan yang dibutuhkan dari ever-e dan spirulina adalah vitamin C dan vitamin E yang bertujuan untuk menjaga kondisi induk tetap prima dan mempercepat proses pematangan telur. Adapun cara pemberiannya yakni kapsul yang berupa ever-e/ spirulina disisipkan ke dalam insang ikan rucah kemudian diberikan kepada induk ikan kakap, jumlah kapsul yang diberikan pada 30 ekor induk  sebanyak 30 butir, hal tersebut sesuai dengan Wardoyo (1990) dalam Supria dan Ruswantoro (2011) bahwa vitamin E dapat mempercepat proses kematangan telur dan dapat memperlancar kerja fungsi- fungsi sel kelamin dengan bertumbuhnya fungsi hormon gonadotropin yaitu untuk mempercepat proses pematangan gonad.

Vitamin C pada multivitamin yang diberikan pada induk kakap merah berperan dalam menjaga kondisi kesehatan induk terhadap lingkungan yang kurang baik selain itu vitamin C dalam multivitamin yang diterima oleh induk dapat ditransfer menuju sel telur dan disisipkan untuk proses perkembangan embrio (Soliman., et al. 1986 dalam Supria dan Ruswantoro. 2011).
Setelah kegiatan pemberian pakan selesai dilakukan barulah media induk dibersihkan/ digosok menggunakan sikat panjang dan saluran pembuangan dibuka. Penggantian air dilakukan setiap hari menggunakan sistem sirkulasi  dengan persentase pergantian air sebesar 200 - 300%,  debit air di saluran inlet berkisar 5 liter/ detik. Kisaran bobot dan panjang induk kakap merah yang digunakan dalam proses untuk induk jantan dengan bobot 2,4 kg - 4,9 kg dan panjang 49 cm - 64 cm, untuk induk betina bobot yang digunakan antara 3,3 kg - 4,5 kg dan panjang 54 cm - 60 cm. Hal tersebut sependapat dengan Said (2012) bahwa bobot dan panjanh yang digunakan untuk induk kakap merah jantan berkisar 1,6 kg - 4 kg dan panjang 20 cm - 70 cm, untuk betina bobot yang digunakan 1,6 kg - 7 kg dan panjang >70 cm.
4.3       Seleksi induk

Seleksi induk dilakukan pada pagi hari yang sebelumnya induk telah dipuasakan, hal ini bertujuan untuk menghindari ikan muntah dan stress pada saat dilakukan seleksi induk. Seleksi induk dilakukan dengan pengurutan pada bagian perut/ strepping untuk menentukan jantan dan betinanya, selain itu dilakukan pengukuran berat dan panjang induk ikan.
Said (2012) berpendapat bahwa induk kakap betina yang matang gonad ditandai dengan perut membuncit bila diraba akan terasa lembek, warna tubuhnya kehitaman/ kelabu, lubang genitalnya terlihat agak membuka dan memerah serta bila distriping keluar cairan kekuning-kuningan. Sedangkan ciri induk jantan yang matang gonad warna tubuhnya semakin cerah dan mengkilap, bila distriping keluar cairan putih susu (sperma). Hasil seleksi induk kakap merah yang telah dilaksanakan dalam kegiatan Praktik Kerja Lapang di BBPBL Lampung ditampilkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Seleksi Induk Kakap Merah  di BBPBL Lampung.
No
Parameter
Satuan
Hasil pengukuran
Said (2012)
Jantan
Betina
Jantan
Betina
1
Kisaran bobot
Kg
2,4 - 4,9
3,3 – 4,5
1,6 – 4
1,6 -7
2
Rata-rata bobot
Kg
3,5
3,9
-
-
3
Kisaran panjang
Cm
49 – 64
54 – 60
20 – 70
> 70
4
Rata-rata panjang
Cm
54,7
57,3
-
-
5
Rasio
Ekor
3
2
1
1
Sumber : (Praktik Kerja Lapang BBPBL, 2012)
Dari Tabel 4 dapat diketahui bahwa  bobot dan panjang induk yang digunakan dalam proses pemijahan kakap merah di BBPBL  sudah memenuhi kriteria, namun perbandingan antara jantan dan betina lebih besar 3 : 2, hal tersebut tentunya mempunyai peluang yang besar dalam hal derajat pembuahan. Unus, F dan Sharifuddin Bin Andy Omar (2010) menambahkan bahwa semakin berat bobot induk maka jumlah fekunditasnya semakin banyak, untuk berat induk betina yang mencapai ukuran 3kg fekunditasnya dapat mencapai 1-1,5 juta telur. Adapun jumlah induk kakap merah yang dipijahkan sebanyak 27 ekor yang dapat dilihat pada Lampiran 2. 
4.4       Pemijahan

Pemijahan kakap merah di BBPBL Lampung menggunakan pada bak pemeliharaan yang merangkap bak pemijahan, proses pemijahannya terjadi secara  alami melalui rangsangan manipulasi lingkungan yaitu menggunakan rangsangan suhu dengan cara  menurunkan ketinggian air hingga mencapai 20 - 30 cm pada pagi hari dan pada sore hari ketinggian air dinaikkan kembali seperti semula. Hal ini sejalan  dengan Anonim (2011) bahwa fluktuasi suhu air yang terjadi akan direspon oleh otak menuju hypotalamus yang kemudian disalurkan menuju hypofisa setelah respon suhu tersebut diproses oleh hypofisa kemudian hasil dari proses tersebut dibawa menuju proses pematangan gonad, proses tersebut merangsang induk untuk memijah.
Pengamatan pemijahan induk kakap merah tidak dilakukan namun, menurut (Said, 2012) iduk akan memijah sore sampai malam hari sekitar pukul 18.00 - 22.00 WIB. Pemijahan ditandai dengan terjadinya interaksi antara induk jantan dan betina, induk betina terlebih dahulu mengeluarkan telur disusul dengan induk jantan mengeluarkan sperma dan pembuahan terjadi diluar tubuh ikan.
4.5       Pemanenan telur 

Telur yang sudah dibuahi akan keluar dengan sendirinya, ukuran telur kakap merah mencapai 300-400 mikron, telur akan keluar dengan bantuan aliran air menuju egg collector berukuran 125 cm x 50 cm x 75 cm dengan mata jaring 100 - 300 mikron. Kerangka dibuat dengan pipa paralon berdiameter 1 inci berbentuk persegi panjang. Gambar egg collector dapat dilihat pada Gambar 2.

Sumber : (Praktek Kerja Lapang BBPBL, 2012)
Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari dengan harapan telur tidak rentan terhadap suhu tinggi, pada waktu pemanenan aerasi pada bak induk dimatikan, hal tersebut dikarenakan sebagian besar telur ikan air laut termasuk kakap bersifat mengapung pada permukaan air sehingga memudahkan telur terbawa oleh aliran air menuju egg collector. Setelah telur berada dalam egg collector, telur dipanen menggunakan skopnet dengan ukuran lubang 200 mikron dan ditampung di dalam baskom berkapasitas 5 liter yang sudah berisi air laut. Telur yang sudah terkumpul kemudian dipindahkan ke dalam akuarium inkubator berkapasitas 90 liter dan diberi aerasi yang cukup selama 24 jam dihitung dari peletakan telur kedalam akuarium.  Jumlah telur dari hasil pemijahan ikan kakap merah selama kegiatan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah Telur Dari Hasil Pemijahan Kakap Merah di BBPBL Lampung. 
Pemijahan ke-
Panen telur secara keseluruhan
(butir)
Telur yang dibuahi
(butir)
Fertilization Rate (%)
Hatching Rate (larva)
Hatching Rate (%)
1
2.160.000
1.134.000
52,5 %
180.000
15,8 %
2
90.000
36.000
40,0 %
0
0 %
3
612.000
306.000
50,0 %
162.000
52,9 %
4
1.548.000
918.000
59,3 %
486.000
52,9 %
5
1.962.000
846.000
43,1 %
468.000
55,3 %
Sumber : (Praktik Kerja Lapang di BBPBL, 2012).
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa derajat pembuahan (Fertilization Rate) dan derajat penetasan (Hatching Rate) pemijahan kakap merah masih di bawah rata-rata bila dilihat dari pemeliharaan sebelumnya antara bulan Juni - September 2007 yang menghasilkan derajat pembuahan sebesar 65-70% dan derajat penetasan sebesar 70-80% (Supriya dan Ruswantoro, 2011).

Pada kegiatan ini diperoleh hasil derajat pembuahan dan derajat penetasan yang rendah, hal tersebut dikarenakan oleh sebab-sebab berikut : pemberian multivitamin (ever-e/ spirulina) kepada induk yang tidak sesuai jadwal, terjadi pemadaman listrik dan tingkat keseragaman kematangan telur yang rendah. Hal tersebut sependapat dengan Watanabe., et al (1983) dalam Farhoud. A., et al  (2011) yang mengatakan bahwa kuantitas dan kualitas pakan termasuk nutrien mikro diantaranya vitamin dan mineral merupakan faktor penting keterkaitannya dengan kematangan gonad, jumlah telur yang diproduksi, kualitas telur dan larva. Melianawati, R dan Restiana, W. A (2012) mengatakan bahwa kualitas telur merupakan sekumpulan sifat yang dimiliki oleh telur, dimana sifat - sifat  tersebut dipengaruhi oleh kesehatan dan gizi pakan yang diterima oleh induk.  adapun penghitungan derajat pembuahan dan derajat penetasan dapat dilihat pada Lampiran 3. 

Telur yang sudah dihitung derajat pembuahan dan derajat penetasannya ditebar pada bak pemeliharaan larva. Hasil dari pemijahan ke- 1, 2, dan 3 dibuang dikarenakan jumlah penetasan telur yang sedikit, sehingga penebaran larva yang dilakukan menggunakan hasil dari pemijahan ke- 4 dan 5 yang memiliki jumlah penetasan telur paling banyak, adapun dari jumlah larva secara keseluruhan hanya diambil 500.000 larva untuk ditebar.   
4.6       Pemeliharaan Larva

Sebelum larva dipindahkan menuju bak pemeliharaan larva berkapasitas 10 m3, bak disikat dan dibilas menggunakan air tawar kemudian dikeringkan selama 1 - 2 hari. Membersihkan bak dapat juga dilakukan dengan cara memberi larutan Calcium hypochlorite (kaporit) dengan dosis 150 ppm, larutan tersebut disiramkan pada dinding dan dasar bak, selanjutnya dikeringkan selama 1 hari untuk menghilangkan kaporit yang bersifat racun, setelah satu hari dikeringkan barulah bak tersebut disikat dan dibilas.

Penebaran larva kakap merah dilakukan pada malam hari dengan tujuan agar larva tidak rentan terhadap suhu tinggi. Pada saat pemindahan larva dari akuarium kapasitas 90 liter menuju bak beton kapasitas 10 m3 dilakukan setelah seting bak baik dari volume air, penempatan aerasi, dan plastik penutup bak sudah tersedia.

Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran dimasukkan ke dalam bak dengan cara disaring menggunakan mesin filter yang bertujuan untuk menghindari kotoran dan patogen yang terbawa oleh air laut menuju media pemeliharaan. Untuk mensuplai oksigen bak dilengkapi sistem aerasi dan batu aerasi yang diletakkan secara terpencar agar distribusi oksigen tersebar secara merata dalam bak pemeliharaan larva.

Larva yang baru menetas mempunyai panjang total 1,17 mm - 1,21 mm, menurut Melianawati, R dan Restiana, W. A (2012) mengungkapkan bahwa panjang total larva kakap merah mencapai 2,44 mm - 2,64 mm. Dari hasil pengamatan panjang total larva kakap merah ternyata kurang bagus, hal tersebut dikarenakan beberapa faktor diantaranya ukuran telur yang kecil dan tingkat kematangan gonad tidak merata. Beberapa faktor tersebut merupakan timbal balik dari kesehatan dan nilai gizi pakan yang diterima oleh induk pada saat pemeliharaan Melianawati, R dan Restiana, W. A (2012). Soliman., et al (1986) dalam Supria dan Ruswantoro (2011) menambahkan bahwa vitamin C dalam pakan yang diterima oleh induk dapat ditransfer menuju sel telur yang nantinya akan disiapkan untuk perkembangan embrio.  

Padat penebaran pada saat kegiatan berlangsung dari D0-D60 sebanyak 63 larva /liter dari total tebar 500.000/ 8 m3 sedangkan standar yang sering digunakan sebagai berikut D2 - D7 dalam bak pemeliharaan adalah 70 - 80 larva/ liter, pada D8 - D15 tingkat kepadatan dikurangi menjadi 30 - 40 larva/ liter, setelah D16 kepadatan larva diturunkan menjadi 20 - 30 larva/ liter.
4.7       Pemberian pakan

Pakan yang bergerak lebih disukai oleh larva ikan sehingga pakan hidup sangat tepat untuk diberikan pada larva ikan. Kurniastuty dan Puja (1992) menyatakan bahwa sebagian besar larva ikan laut bersifat planktonis dan memberikan tanggapan yang cepat terhadap pakan yang mudah dilihat karena gerakannya yang aktif dan warna yang menarik. Pakan untuk arva ikan kakap merah yang dipelihara di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung berupa pakan alami dan pakan buatan jenis Love Larva yang memiliki protein kasar sebesar 48%, dan lemak kasar sebesar 10%. Kandungan bahan dalam tiap pakan yang dipergunakan ditampilkan pada Lampiran 4. Sutarma., dkk (2004) dalam Setiawan, Adi (2011) mengungkapkan bahwa untuk hasil yang optimal pada kegiatan budidaya diperlukan pakan dengan kadar protein 47,5%, lemak 8,2%, serat kasar 8,54%, dan kalori total 2,963%. Jumlah pemberian pakan (Feeding Rate) dan frekuensi pemberian pakan (Feeding Frekuency) dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Jadwal Pemberian Pakan Berdasarkan Umur Ikan.
Umur
Jenis pakan
Dosis pemberian pakan
Frekuensi pemberian pakan/ hari
D0-D12
Nannochloropsis sp
8-10 x 1.000 Sel/ ml
2 x
Skeletonema costatum
3-4 x 10.000 Sel/ ml
2 x




D2-D20
Epicore LHF-1
20 ml/ l (20 ppm)
4 x




D7-D30
Rotifera sp
8-15 ind/ ml
2 x
Branchionus plicatilis
5-7 ind/ ml
2 x




D15-D20
Artemia salina
11-20 ind/ ml
2 x




D15-D46
Epicore LHF-2
20 ml/ l (20 ppm)
4 x




D20-D30
Copepoda
15-20 ind/ ml
2 x
Diapanosoma
 15-20 ind/ ml
2 x
Artemia salina dewasa
 15-20 ind/ ml
2 x




D30-D37
Copepoda
15-20 ind/ ml
2 x
Diapanosoma
15-20 ind/ ml
2 x

Artemia salina dewasa (yang sebelumya telah diberi pengkaya minyak ikan schoots)

15-20 ind/ ml

2 x
Pakan buatan Love Larva No 1
15-20 gram
1 x




D37-D60
Artemia salina dewasa
20-30 ind/ ml
2 x
Copepoda
20-30 ind/ ml
2 x
Pakan buatan Love Larva No 1 dan 2.
15-20 gram
3 x
Sumber : (Praktik Kerja Lapang BBPBL, 2012)
4.8       Pengelolaan air

Pengelolaan air yang baik dapat memberikan dampak yang positif diantaranya pertumbuhan larva yang cepat dengan tingkat kelulushidupan (Survival Rate) lebih tinggi. Dalam hal ini yang terpenting adalah agar selalu mempertahankan lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan dan kehidupan larva. Disamping itu perubahan yang bersifat mendadak atau lingkungan yang tidak mendukung akan mengakibatkan kematian larva, untuk menekan tingkat kematian, disamping perlu diperhatikan masalah sanitasi dan pengaturan pakan yang seksama, perlu diperhatikan juga pengelolaan air yang baik (Kungvankij., et al. 1986 dalam Kadarwati, L. 1997).  

Pada pemeliharaan larva kakap merah penggantian air dilakukan secara kontinyu.  Selain pergantian air dilakukan juga pemberian  probiotik berupa EPICIN-D dengan dosis 5 mg/ 8 ton (0,625 ppt) setiap 5 hari sekali. Hasil pengamatan kualitas air bak pemeliharaan larva kakap merah pada tanggal 28 Oktober 2011 - 11 Februari 2012 yang ditampilkan pada Tabel 7.
Tabel 7. Kisaran Kualitas Air Pemeliharaan Larva Kakap Merah di BBPBL Lampung

No
Parameter
Satuan
Nilai
Standar baku
1
Ph
-
6,69
7 - 8,5
2
Salinitas
ppt (gr/ l)
32
30 – 34
3
DO
ppm (mg/ l)
4,8
> 4
4
Suhu
oC
29,4
29 – 32
5
Nitrit (NO2)
ppm (mg/ l)
0,65
0,05
6
Nitrat (NO3)
ppm (mg/ l)
0,388
0,008
7
Amoniak (NH3)
ppm (mg/ l)
0,777
0,3
Sumber : (Praktik Kerja Lapang BBPBL, 2012)
Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa parameter kualitas air pH, suhu, DO dan salinitas masih berada dalam batasan kisaran standar baku yang teleh ditetapkan oleh KepMen Lingkungan Hidup tahun 2004. Sedangkan nitrit, nitrat dan amoniak melebihi batas kisaran standar baku, hal ini disebabkan oleh adanya kepadatan yang tinggi dimulai dari D8-D60 dikarenakan pada fase tersebut tetap menggunakan kepadatan awal sebesar 63 larva /liter. Dengan kepadatan yang tinggi sisa veses akan melimpah dan akan menimbulkan peningkatan kandungan amoniak dalam media perairan.  
4.9       Panen benih

Panen dilakukan pada larva umur 60 hari (D60) yang sudah bisa dikatakan sebagai benih, pada pagi hari sebelum pemanenan dilaksanakan ikan tidak diberi makan atau dipuasakan terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar ikan tidak mengalami muntah dan stress pada saat pemanenan. Sebelum dilakukan pemanenan sarana dan prasarana telah disiapkan dimulai dari bak penampungan yang sudah diisi air, pemasangan aerasi dan ketersediaan pakan alami. Pakan yang tersedia dalam media penampungan ini bertujuan agar larva yang sudah dipindah dapat langsung memperoleh makanan sehingga mendapat energi untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Cara pemanenan  larva yang dilakukan pertama-tama adalah memasang happa berukuran 200-500 mikron meter pada bak penangkapan larva, kemudian membuka saluran outlet media pemeliharaan. Air yang keluar bersamaan dengan larva akan ditampung dalam happa yang telah dipasang sebelumnya, jika larva dalam happa tersebut sudah banyak, dilakukan pengambilan larva menggunakan baskom atau skopnet secara hati-hati dan dipindah menuju bak pendederan.
  
Jumlah benih kakap merah yang dipanen sebanyak 3.000 (0,6%), hal tersebut dikarenakan tidak dilakukannya penjarangan mulai dari D8-D60, semakin lama pemeliharaan ukuran ikan baik panjang maupun bobot akan semakin bertambah dengan demikian area dalam mendapatkan ruang gerak, oksigen dan makan semakin sempit. Hutapea., et al. (2005) berpendapat bahwa kepadatan yang tinggi dapat memicu persaingan memperebutkan ruang gerak, makanan dan oksigen hal tersebut merupakan salah satu faktor pendorong terjadinya mortalitas dan kanibalisme.

Pada pemijahan ke- 1, 2 dan 3 jumlah telur yang menetas sangat sedikit, sehingga setelah dilakukan penghitungan derajat penetasan larva dibuang. Adapun larva yang akan ditebar berasal dari pemijahan ke-4 dan 5 yang memiliki jumlah larva paling banyak namun hanya diambil sebanyak 500.000 dan sisanya dibuang. Fertilization Rate dan Heatching Rate pada pemijahan ke-4 sebesar 59,3 %  dan 52,9% pemijahan ke-5 sebesar 43,1%  dan 55,3%. Penghitungan dapat dilihat pada Lampiran 5.

DAFTAR PUSTAKA
Ahda, Alfida., Djoko Roedatino., Abdullah., Erigenius Patongloan., Asmaniah., 2009. Peluang Usaha Perikanan Budidaya. Direktorat Usaha Budidaya. Jakarta 


Aslianti, T dan Agus Priyono. 2009. Peningkatan Vitalitas dan Kelangsungan Hidup Benih Kerapu Lumpur (Epinephelus coioides) Melalui Pakan Yang Diperkaya Dengan Vitamin C dan Kalsium. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan. Vol. 19. Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut. Gondol-Bali.

Batara, R. J. 2008. Deskripsi Morfologi Cacing Nematoda Pada Saluran Pencernaan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) dan Ikan Kakap Merah (Lutjanus spp). Laporan Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Cholik, F., Daulay. T., 1985. Artemia Salina (Kegunaan, Biologi dan Kulturnya). INFIS Manual Seri. No.12.

Farhoudi, A., A. M. Abedian Kenari., R. M. Nazari and C. H. Makhdoomi. 2011. Study of Body Composition, Lipid and Fatty Acid Profile During Larval Development in Caspian Sea Carp (Cyprinus carpio). Journal of Fisheries And Aquatic Science, 6: 417-428.

Fitri, A. D. P., Asriyanto, dan Y Asmara. 2004. Studi Pendahuluan Pengaruh Umpan Hidup dan Mati Serta Jarak Umpan Terhadap Tingkah Laku Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus). Unifersitas Diponegoro. Semarang.

Kadarwati, Lusia. 1997. Pengaruh Perbedaan Kepadatan Larva Terhadap Kelulushidupan Larva Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal) Umur 1-5 Hari. Laporan Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.  

Kurniastuty dan Puja, Y. 1992. Mass Production of Rotifera (Brachionus plicatilis) in Supplying Feed for Seabass. Buletin Budidaya Laut. No. 5. p. 20-25

Kurniastuty. 1992. Produksi Masal Rotrifera (Branchionus plicatilis) Untuk Menunjang Ketersediaan Pakan Larva Kakap Putih. Bulletin Budidaya Laut Lampung. No.5. Halaman 20-23.

Kurniawan, B. A. 2001. Aplikasi Metode Schaefer Terhadap Hasil Tangkap dan Pola Musim Penangkapan Ikan Kakap Merah (Lutjanus spp) yang Didapatkan di PPN Pekalongan Jawa Tengah. Laporan Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Melianawati, R dan Restiana Wisnu Aryati. 2012. Budidaya Kakap Merah (Lutjanus sebae). Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 4, No. 1, Hal. 80-88.

Priyadi, A., Rendy Ginanjar., Asep Permana., dan Jacques Slembrouck., 2009. Tingkat Densitas Larva Botia (Chromobotia macracanthus) dalam Satuan Volume Air pada Akuarium Sistem Resirkulasi. Balai Riset Budidaya Ikan Hias. Depok.

Purba, Resmayeti. 1994. Perkembangan Awal Ikan Kakap Merah, Lutjanus argentimaculatus. Oseana, Volume XIX, No 3 : 11-20.

Redjeki, Sri. 1999. Budidaya Rotifera (Brachionus plicatilis). Oseana, Volume XXIV No: 2. Serang.

Said, A. 2012. Budidaya Ikan Kakap. Ganeca Exact. Halaman 19-23

Saleh, Rachman. 2009. Efektivitas Kombinasi Aromatase Inhibitor, Anti-Dopamin dan Ovaprim Dalam Mempercepat Pematangan Gonad dan Ovulasi Pada Ikan Sumatra (Puntius tetrazona). Institut Pertanian Bogor. Bogor

Setiawan, adi. 2011. Pembesaran Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) dalam Keramba Jaring Apung di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung. Laporan Tugas Akhir. Politeknik Negeri Lampung. Bandar Lampung.

Sudjiharno. 2007. Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Seri Budidaya Laut No 9. Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut. Lampung.

Supria dan Ruswantoro. 2011. Pemijahan dan Pemeliharaan Larva dan Benih Kakap Merah Lutjanus argentimaculatus. Buletin Budidaya Laut No. 22. Pesawaran. Lampung.

Supria dan Suciantoro. 2007.  Pengaruh Frekuensi Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus). Buletin Budidaya Laut No. 22. Pesawaran. Lampung.

Supriya., M. Firdaus dan Arif Rahman Rivai. 2008. Pemilihan Pakan Alami Larva Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus). Buletin Budidaya Laut No.24. Pesawaran. Lampung.

Thariq, M., Mustamin dan Dwi H. P., 2000. Biologi Zooplankton dalam Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Dirjen Perikanan Budidaya DKP. Lampung

Unus, F dan Sharifuddin Bin Andy Omar. 2010. Analisis Fekunditas dan Diameter Telur Ikan Malalugis Biru (Decapterus macarellus Cuvier, 1833) di Perairan Kabupaten Banggai Kepulauan, Propinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan. Vol. 20. Universitas Muhammadyah Luwuk Banggai. Kabupaten Banggai Kepulauan.

Wontek, R. 2012. Makanan dan Kebiasaan Makan. http://dunia-budidaya.blogspot.com/2009/07/makanan-dan-kebiasaan-makan.html. 8 Agustus 2012.