I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sektor kelautan dan perikanan diharapkan menjadi salah satu
tulang punggung perekonomian Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusi
dalam perhitungan Product Domestic Bruto
(PDB) yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Salah satu
keberhasilan sektor kelautan dan perikanan dapat dilihat dari indikator
peningkatan produksi perikanan setiap tahunnya. Selaras dengan visi Kementerian
Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, yaitu Indonesia
menjadi penghasil produk perikanan terbesar pada tahun 2015 maka perikanan
budidaya dituntut menjadi kontributor utama yang dapat meningkatkan produksinya
guna mencapai visi tersebut. Target produksi perikanan budidaya ditetapkan
sebesar 16,89 juta ton pada tahun 2014 atau meningkat sebesar kurang lebih 4 kali lipat dari tahun 2009 yaitu sebesar
4,78 juta ton, tentunya berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan visi tersebut (Ahda, Alfida., dkk.
2009)
Budidaya kakap merah tentunya menjadi salah satu alternatif untuk
mewujudkan visi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ikan kakap merah atau
sering disebut red snapper merupakan
salah satu jenis ikan air laut yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Ikan kakap merah banyak
dijumpai di perairan Indonesia dan selama ini banyak didapatkan hanya dari
alam. Selain melalui penangkapan produksi kakap merah dapat juga diperoleh
melalui usaha budidaya, namun sampai saat ini
ketersediaan benih di alam masih tergantung dari faktor musiman (Supria dan
Ruswantoro, 2011).
Beberapa kelemahan apabila usaha budidaya tergantung dari benih yang
berasal dari alam antara lain kualitas dan kuantitas yang kurang terjamin karena
sifat pemijahan yang musiman, oleh karena itu perlu diupayakan melalui kegiatan
pembenihan pada bak terkontrol sehingga, kebutuhan benih kakap merah yang
semula hanya tergantung dari ketersediaan di alam dapat memenuhi untuk kegiatan
budidaya.
Keberhasilan dalam
kegiatan pembenihan kakap merah sangat ditentukan oleh beberapa faktor
diantaranya penanganan induk, metode pemijahan, penanganan telur, pemeliharaan
larva, dan penyadiaan pakan alami yang tepat mutu baik ukuran, jumlah dan
jadwal pemberiannya. Untuk itu perlu dilakukan upaya penanganan secara tepat
untuk memperoleh hasil secara optimal dalam kegiatan pembenihan pada bak
terkontrol secara kontinyu, sehingga kegiatan budidaya dapat berjalan secara
lancar tanpa tergantung ketersediaan benih dari alam dan diharapkan dapat mendorong
tercapainya visi Kementerian Kelautan dan Perikanan.
1.2 Tujuan
Tujuan penulisan Tugas Akhir berdasarkan kegiatan Praktik Kerja Lapang adalah :
1) Menambah pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kakap merah secara masal.
2) Mengetahui jumlah telur (fekunditas) dan derajat penetasan (HR) ikan kakap merah dalam pemijahan secara masal.
3) Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan derajat penetasan telur kakap merah.
1.3 KontribusiTujuan penulisan Tugas Akhir berdasarkan kegiatan Praktik Kerja Lapang adalah :
1) Menambah pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kakap merah secara masal.
2) Mengetahui jumlah telur (fekunditas) dan derajat penetasan (HR) ikan kakap merah dalam pemijahan secara masal.
3) Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan derajat penetasan telur kakap merah.
Laporan Tugas Akhir ini diharapkan sebagai salah satu penyaluran
ilmu teknologi tepat guna terhadap masyarakat secara umum dan memberikan
pengetahuan bagi penulis tentang
pembenihan ikan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal) secara masal pada
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi dan
Morfologi Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus
forsskal)
Nama kakap diberikan kepada kelompok ikan yang termasuk dalam tiga genus yaitu Lutjanus, Latidae dan Labotidae. Jenis-jenis yang termasuk Lutjanidae biasanya disebut kakap merah, dan jenis lainnya yaitu Lates calcarifer yang termasuk suku Latidae umumnya disebut kakap putih dan Lobotos surinamensis yang termasuk suku Lobotidae disebut kakap batu (Hutomo., et al. 1986 dalam Kurniawan, B. A. 2001).
Ikan kakap merah yang tergolong keluarga Lutjanidae mempunyai klasifikasi sebagai berikut (Saanin, 1984 dalam Batara, R. J. 2008).
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Sub Ordo : Perciodea
Famili : Lutjanidae
Genus : Lutjanus
Spesies : Lutjanus argentimaculatus forsscal
Ciri-ciri morfologi ikan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal) memiliki bentuk tubuh yang memanjang dan agak pipih (depres), letak mulut berada di tengah (terminal), jenis ikan ini mempunyai gigi kecil yang tajam namun tersusun dengan jarang (villiform) umumnya gigi tersebut tidak nampak jika dilihat hanya sekilas, sisik tersusun secara rapat dengan operculum yang tajam. Warna tubuh ikan ini pada bagian dorsal/ punggung berwarna merah gelap sedangkan warna tubuh pada bagian ventral/ perut berwarna merah pudar, sirip ekor ikan ini berbentuk cagak, gambar ikan kakap merah dapat dilihat pada Gambar 1.
Nama kakap diberikan kepada kelompok ikan yang termasuk dalam tiga genus yaitu Lutjanus, Latidae dan Labotidae. Jenis-jenis yang termasuk Lutjanidae biasanya disebut kakap merah, dan jenis lainnya yaitu Lates calcarifer yang termasuk suku Latidae umumnya disebut kakap putih dan Lobotos surinamensis yang termasuk suku Lobotidae disebut kakap batu (Hutomo., et al. 1986 dalam Kurniawan, B. A. 2001).
Ikan kakap merah yang tergolong keluarga Lutjanidae mempunyai klasifikasi sebagai berikut (Saanin, 1984 dalam Batara, R. J. 2008).
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Sub Ordo : Perciodea
Famili : Lutjanidae
Genus : Lutjanus
Spesies : Lutjanus argentimaculatus forsscal
Ciri-ciri morfologi ikan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal) memiliki bentuk tubuh yang memanjang dan agak pipih (depres), letak mulut berada di tengah (terminal), jenis ikan ini mempunyai gigi kecil yang tajam namun tersusun dengan jarang (villiform) umumnya gigi tersebut tidak nampak jika dilihat hanya sekilas, sisik tersusun secara rapat dengan operculum yang tajam. Warna tubuh ikan ini pada bagian dorsal/ punggung berwarna merah gelap sedangkan warna tubuh pada bagian ventral/ perut berwarna merah pudar, sirip ekor ikan ini berbentuk cagak, gambar ikan kakap merah dapat dilihat pada Gambar 1.
Sumber
: (Saanin, 1984 dalam Batara, R. J.
2008)
2.2
Pakan
2.2.1 Kebiasaan makan
Menurut
Effendi (1997) dalam Priyadi, A., dkk (2009), pakan merupakan faktor
pengendali yang penting dalam menghasilkan sejumlah ikan disuatu perairan Adapun
pengaruh pakan diantaranya : sebagai faktor yang menentukan bagi populasi untuk
tumbuh dan berkembang dalam suatu perairan tersebut. Di alam, banyak terdapat
berbagai jenis makanan yang tersedia bagi ikan, tentunya setiap ikan telah
memiliki selera dan kebiasaan makan yang berbeda-beda sesuai dengan morfologi
dan adaptasi yang telah dilakukan oleh ikan tersebut (Nikolsky, 1963 dalam Kadarwati, L. 1997).
Menurut Effendi (1997) dalam Priyadi, A., dkk (2009), kebiasaan makan (food
habit) berhubungan dengan jenis, kuantitas dan kualitas makanan yang
dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara memakan (feeding habits) berhubungan dengan waktu, tempat dan bagaimana cara
ikan memperoleh makanannya. Effendi (1997) dalam
Priyadi, A., dkk (2009) menambahkan
bahwa faktor- faktor yang menentukan jenis ikan memakan suatu organisme adalah
ukuran, ketersediaan, warna, rasa, tekstur makanan dan selera ikan terhadap
makanan. Selanjutnya dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi jenis dan jumlah
makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies ikan adalah umur, tempat dan waktu.
Jenis ikan kakap merah termasuk ikan carnivor.
Ikan ini merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada malam hari
(nocturnal). Aktivitas ikan nocturnal tidak seaktif ikan diurnal atau ikan yang aktif pada waktu
siang hari. Pergerakan ikan nocturnal cenderung lambat ataupun pasif, adapun arah
pergerakannya tidak seluas ikan diurnal.
Diduga ikan nocturnal lebih banyak
menggunakan indra perasa dan penciuman dibandingkan indra penglihatannya. Bola
mata yang besar menunjukkan ikan nocturnal
menggunakan indra penglihatannya untuk ambang batas intensitas cahaya tertentu,
tetapi tidak untuk intensitas cahaya yang kuat (Iskandar dan Mawardi, 1997 dalam Wontek, R. 2012).
Ikan kakap merah lebih suka memangsa jenis-jenis ikan yang berukuran
lebih kecil dari pada ukuran tubuh ikan tersebut. Adapun jenis-jenis makanannya berupa crustacea,
gastropoda serta berbagai jenis plankton namun utamanya adalah urochordata. Pada umumnya kakap merah
yang berukuran besar baik panjang maupun tinggi tubuhnya, memangsa jenis-jenis
ikan maupun invertebrata berukuran lebih kecil dari pada ukuran bukaan mulutnya
yang berada didekat permukaan di sekitar perairan karang. Jenis kakap merah ini
biasanya menempati daerah perairan pantai berkarang hingga kedalaman 100 meter
(Sunyoto dan Mustahal, 2002 dalam Batara,
R. J. 2008).
2.2.2 Jenis pakan
Pakan yang digunakan pada
pemeliharaan ikan kakap merah secara umum adalah ikan rucah seperti kuniran,
selar, tanjan dan kurisi (Supria dan Ruswantoro, 2011). Pakan yang diberikan
haruslah sesuai dengan bukaan mulut dan kandungan nutrisinya diperlukan dalam
proses perkembangan gonad ikan. Namun penggunaan ikan rucah sebagai pakan ikan kakap
merah memiliki beberapa kelemahan yaitu : ketersediaan pakan tidak kontinyu,
memerlukan waktu dan tenaga untuk penyiapan, mutu pakan tidak terjamin, mempunyai
resiko terhadap penularan penyakit.
Kualitas ikan
rucah yang jelek ditandai dengan ikan yang membusuk, bau yang tidak sedap. Ikan
yang telah terkontaminasi sebaiknya tidak digunakan sebagai pakan. Kelebihan Ikan
rucah segar diantaranya mempunyai kualitas nutrisi yang lebih baik dari pada
ikan rucah yang dibekukan, akan tetapi memiliki resiko sebagai penularan bibit
penyakit (Sutarma, dkk., 2004 dalam
Setiawan, Adi. 2011).
2.3
Sifat Hidup
dan Pemijahan
Ikan
kakap merah biasanya hidup secara soliter
atau menyendiri, ikan ini dilengkapi dengan gigi tajam yang merupakan adaptasi
tingkah laku terhadap makannya dengan tujuan agar mangsa tidak mudah lepas.
Ikan kakap merah dewasa umumnya berwarna merah gelap pada punggungnya dan
berwarna merah pudar pada bagian perutnya (Gunarso, 1995 dalam Wontek, R. 2012).
Ikan kakap merah tergolong jenis ikan diecious/ biseksual yaitu ikan yang tidak dijumpai perbedaan antara
jantan dan betina secara visual, baik dalam hal struktur tubuh maupun dalam hal
warna. Pola reproduksi ikan kakap merah yaitu hermaprodit protandri, dimana pada waktu muda ikan ini berjenis
kelamin jantan dan pada masa tua berjenis kelamin betina. Ikan kakap merah rata-rata mencapai tingkat kedewasaan pertama
saat panjang tubuhnya telah mencapai 41–51% dari panjang tubuh total atau
panjang tubuh maksimum.
Ikan kakap merah jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang
lebih kecil dari pada betina, biasanya ikan yang siap memijah akan muncul ke
permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan gelap (antara tanggal 25-30
kalender Hijriah) pada suhu air antara 22oC - 25ºC. Pada saat proses
pemijahan secara alami, induk jantan akan mengambil inisiatif yang diawali
dengan menyentuh dan menggesekkan tubuh pada salah satu induk betina. Setelah
itu baru induk jantan yang lain ikut bergabung, memutari induk betina membentuk
spiral sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air. Selain pemijahan
secara alami dapat juga menggunakan pemijahan secara buatan yaitu dengan metode
rangsang hormonal secara injeksi atau dengan implantasi (Kungvankij, et al.
1986 dalam Kadarwati, L. 1997).
Ikan kakap merah yang
berukuran besar akan bertambah pula umur maksimumnya berkisar antara 15-20
tahun dibandingkan yang berukuran kecil, ikan ini umumnya menghuni perairan
dangkal hingga kedalaman 60-100 meter di bawah permukaan laut (Gunarso, 1995 dalam Wontek, R. 2012).
2.4 Fertilisasi dan Perkembangan Embrio Ikan
Perkembangan
embrio ikan diawali dengan fertilisasi yang terjadi di luar tubuh (eksternal). Fertilisasi
adalah proses bersatunya inti sel telur dengan inti sperma membentuk zigot. Setelah
proses fertilisasi kemudian terjadi proses pembelahan zigot secara cepat
menjadi unit- unit sel yang lebih kecil yang disebut morula, kemudian membentuk blastula,
6 jam kemudian terbentuk embrio awal, disusul dengan terbentuknya miomer awal, miomer
tengah, dan miomer akhir. Telur yang matang sebagian besar terdiri atas lemak,
protein dan karbohidrat (Sumantadinata, 1981 dalam Batara, R. J. 2008). Gambar perkembangan embrio ikan kakap
merah Lutjanus argentimaculatus forsskal dapat dilihat pada Lampiran 1. Sedangkan fase perkembangan
embrio ikan kakap merah dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel
2. Perkembangan Embrio Kakap Merah (Lutjanus
argentimaculatus forsskal).
No
|
Stadia
|
Jam
|
Menit
|
1
|
Pembelahan sel
|
0
|
20
|
2
|
Morula
|
1
|
30
|
3
|
Blastula
|
5
|
30
|
4
|
Embrio awal
|
6
|
30
|
5
|
Miomer awal (tanpa vesikel mata)
|
10
|
30
|
6
|
Miomer tengah
|
12
|
0
|
7
|
Miomer akhir (hepar mulai berfungsi)
|
15
|
30
|
8
|
Menetas
|
17
|
45
|
Sumber : (Doi dan Kohno, 1985 dalam Kadarwati, L. 1997)
2.5
Perkembangan
Larva
Heatchilings : Stadia ini masih mempunyai kuning telur dan butir minyak (0 - 4 hari).
Larva : Stadia dimulai dari penyerapan kuning telur sampai awal stadia burayak (5 - 21 hari).
Burayak : Stadia dimulai saat larva kakap mengalami metamorphosis lengkap, bentuk ikan sudah seperti
bentuk dewasa (22 - 40 hari).
Juwana : Mulai dari burayak sampai matang gonad pertama (41 hari - 2 tahun)
2.6 Kepadatan Larva
Kepadatan yang tinggi juga menyebabkan persaingan dalam mendapatkan ruang gerak, oksigen dan makanan. Terbentuknya zat beracun hasil dari sisa metabolisme larva, juga meningkatkan terjadinya kontak antara parasit dan larva sehingga memudahkan penyebaran penyakit dari satu larva ke larva lain (Asikin, 1985 dalam Fitri, A. D. P. dkk. 2004) kecuali faktor lingkungan namun faktor biologis dari larva tetap ikut berperan. Pengujian pemeliharaan larva kakap merah yang dilakukan oleh Indradjaja (1995) dalam Kadarwati, L (1997) menunjukan bahwa pada kepadatan 50-100 larva per liter mortalitas larva mencapai hampir 90% sebelum berumur 35 hari.
2.7 Pakan dan Tingkat Kelulushidupan
2.8 Nilai Gizi Pakan Hidup
2.9 Kualitas Air
Larva yang baru
menetas bersifat transparan, gerakannya lamban, dan masih membawa kuning telur
sebagai cadangan makanannya. Butir minyak terletak dibagian tengah bawah. Larva
kehabisan cadangan makanan setelah berumur 4-5 hari yaitu pada fase heatchilings pada fase ini terjadi
perubahan pola pakan yang semula berasal dari dalam tubuh (endogenous) beralih ke sumber makanan yang berasal dari luar tubuh (exogenous),
pada peralihan fase antara heatchilings dan
larva banyak terjadi kematian. Kohno., et
al. (1985) dalam Kadarwati, L.
(1997) menganalisis sebab-sebab kematian tersebut dengan menghitung jarak antara
larva mulai membuka mulut sampai larva mulai makan. Dari hasil analisa tersebut
didapatkan bahwa penyerapan butir minyak terjadi antara 92 - 94 jam atau sekitar
4 hari setelah telur dibuahi. Penyerapan kuning telur terjadi antara rentan
waktu 71 - 87 jam atau sekitar 3 hari setelah telur menetas, dan jarak waktu
antara larva mulai membuka mulut sampai larva mampu mengkonsumsi pakan adalah
69-92 jam setelah telur menetas.
Tingkat mortalitas pada umur 5 hari terjadi
karena adanya keadaan dimana larva mampu makan hanya pada saat kondisi dimana
terdapat jumlah pakan yang optimal, sedangkan ada juga yang tidak mampu makan
walaupun terdapat jumlah pakan yang optimal. Hal ini dapat terjadi dikarenakan
kesalahan menentukan jadual keterlambatan dalam pemberian pakan, atau dapat
juga dikarenakan rendahnya kualitas mutu pakan yang diberikan. (Indradjaja,
1995 dalam Kadarwati, L. 1997)
Pada hari ke 3 - 8 setelah telur menetas perkembangan organ
dalam semakin sempurna, gelembung udara, kantung empedu dan Calon sirip
punggung terbentuk pada hari ke-7. Sirip punggung dan sirip dada pada larva
berumur 5 hari belum tumbuh namun organ dalam seperti jantung, lambung dan usus
sudah mulai berkembang. Pada larva umur 10 hari pigmentasi mata sudah mulai
sempurna, sirip punggung dan dada mulai berkembang. (Kohno et al, 1985 dalam Kadarwati,
L. 1997)
Pada larva umur 15 hari sirip punggung dan dada berkembang
dan pada umur 20 hari tumbuh duri halus yang semakin kokoh. Pada larva umur 25
hari perkembangan sirip punggung mencapai setengah panjang tubuh, diduga
berfungsi sebagai alat keseimbangan dalam bergerak mencari makan dan jika
terkena arus larva belum cukup mampu untuk menghindar. Perkembangan identik
dengan pertumbuhan yaitu keluarnya satu seri proses tingkah laku dan proses
fisiologis yang dimulai dari konsumsi pakan dan diakhiri dengan pengendapan
sisa substansi larva (Kungvankij, et al.,
1986 dalam Kadarwati, L. 1997)
Menurut Tiensongrusmee, et al., (1988) dalam Kadarwati, L (1997), terminologi stadia perkembangan larva
kakap merah adalah sebagai berikut.
Heatchilings : Stadia ini masih mempunyai kuning telur dan butir minyak (0 - 4 hari).
Larva : Stadia dimulai dari penyerapan kuning telur sampai awal stadia burayak (5 - 21 hari).
Burayak : Stadia dimulai saat larva kakap mengalami metamorphosis lengkap, bentuk ikan sudah seperti
bentuk dewasa (22 - 40 hari).
Juwana : Mulai dari burayak sampai matang gonad pertama (41 hari - 2 tahun)
2.6 Kepadatan Larva
Kepadatan larva sangat penting kaitannya
dalam setiap kegiatan pembenihan, pada pemeliharaan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus forsskal),
semakin tinggi padat tebar pemeliharaan larva maka semakin rendah laju
pertumbuhan dan tingkat kelulushidupannya. Padat pemeliharaan yang tinggi akan
meningkatkan mortalitas, karena semakin tinggi padat penebaran larva mutu
lingkungan perairan akan menurun seiring dengan lamanya pemeliharaan (Williams,
et al., 1985 dalam Kadarwati, L. 1997).
Hasil uji rekayasa budidaya ikan kerapu dengan kepadatan
yang berbeda, oleh Sulistinarto (1995) dalam
Kadarwati, L (1997), membuktikan bahwa semakin tinggi kepadatan biota, kadar
amoniak semakin tinggi pula yaitu mencapai 0,5-2,1 ppm sehingga mengakibatkan
mortalitas semakin tinggi dan tingkat kelulus hidupan hanya sebesar 5-20%.
Sedangkan pada pengujian pemeliharaan larva kerapu bebek dengan kepadatan yang
berbeda oleh Aslianti, T (1996) dalam
Aslianti, T dan Agus Priyono (2009), menunjukan bahwa kandungan amoniak pada
semua perlakuan cenderung meningkat sesuai dengan kepadatan larva.Kepadatan yang tinggi juga menyebabkan persaingan dalam mendapatkan ruang gerak, oksigen dan makanan. Terbentuknya zat beracun hasil dari sisa metabolisme larva, juga meningkatkan terjadinya kontak antara parasit dan larva sehingga memudahkan penyebaran penyakit dari satu larva ke larva lain (Asikin, 1985 dalam Fitri, A. D. P. dkk. 2004) kecuali faktor lingkungan namun faktor biologis dari larva tetap ikut berperan. Pengujian pemeliharaan larva kakap merah yang dilakukan oleh Indradjaja (1995) dalam Kadarwati, L (1997) menunjukan bahwa pada kepadatan 50-100 larva per liter mortalitas larva mencapai hampir 90% sebelum berumur 35 hari.
2.7 Pakan dan Tingkat Kelulushidupan
Tingkat kelulushidupan benih terutama pada stadia awal
ditentukan oleh ketersediaan pakan. Setelah cadangan makanan dalam telur habis,
larva harus segera memperoleh makanan dari luar tubuhnya. Bila larva tidak
berhasil menemukan makanan yang sesuai terkait dengan kandungan nutrisi dan
ukuran pakan, maka larva akan kelaparan dan kemudian mati dalam kurun waktu
yang singkat Djarijah (1995) dalam
Supria dan Suciantoro (2007).
Saat larva kakap merah membuka mulut untuk pertama kali,
bukaan mulutnya berkisar 145 - 200 mikron (Doi dan Kohno, 1985 dalam Kadarwati, L. 1997). Oleh karena
itu ukuran pakan yang diberikan harus lebih kecil dari bukaan mulut larva.
Larva kakap merah menyukai pakan yang bergerak, sehingga jenis pakan hidup
sangat tepat untuk diberikan pada larva.
Kurniastuty (1992) menyatakan bahwa sebagian besar larva
ikan laut bersifat planktonis dan memberi tanggapan cepat terhadap pakan yang
bergerak. Antara lain : Brachionus
plicatilis, Artemia salina, Nannochloropsis sp. Pakan tersebut mengandung
omega 3 HUFA (Highly Unsaturated Fatty
Acids) dan beberapa unsur gizi lain yang sangat dibutuhkan untuk
perkembangan dan kelangsungan hidup larva kakap merah (Juwana, 1985 dalam Kadarwati, L. 1997).
Juwana (1985) dalam
Kadarwati, L (1997) menambahkan bahwa kelenjar pencernaan ikan carnivor menghasilkan enzim-enzim
pemecah protein, keaktifan enzim tersebut dipengaruhi oleh kadar protein dalam
pakan yang mencapai keaktifan apabila
pakan yang dicerna mengandung protein 40-60%. Bila kadar protein rendah,
enzim-enzim tersebut membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri agar mencapai
puncak keaktifan.
Selama periode
pemeliharaan 35 hari terdapat dua masa kritis. Masa kritis pertama pada hari
ke- 4 sampai 7, dimana pada saat itu dijumpai kematian larva lebih dari 50%.
Masa kritis kedua terjadi pada rentan waktu hari ke- 18 sampai 21, yaitu pada
masa pembentukan gelembung renang (Supriya., dkk. 2008)
2.8 Nilai Gizi Pakan Hidup
Penelitian yang dilakukan oleh Watanabe., et al. (1983) dalam Kadarwati, L (1997) menunjukkan
bahwa kebutuhan asam lemak esensial (Essential
Fatty Acids) pada berbagai jenis ikan tidak sama. Asam
lemak esensial adalah asam lemak
yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh suatu mahluk hidup di dalam tubuhnya,
atau dapat dibuat namun tidak dapat mencukupi kebutuhan minimal yang diperlukan
untuk memenuhi fungsi fisiologinya adapun contoh diantaranya yaitu histidine, isoleucine, leucine, lysine,
methionine, phenylalanine, threonine, tryptophan, dan valine.
Kandungan omega 3
HUFA dalam pakan merupakan faktor penting dalam nilai mutu pakan hidup,
kekurangan omega 3 HUFA dapat mengakibatkan tingkat kematian larva yang tinggi
dan pertumbuhan yang lambat, serta tidak sempurnanya pembentukan dan fungsi
gelembung renang pada larva ikan (Webster dan Lovell, 1990 dalam Kadarwati, L. 1997). Peka terhadap penanganan dan mudah takut
jika diganggu merupakan gejala awal dari kekurangan asam lemak tak jenuh (HUFA)
yang diperlihatkan oleh larva.
2.9 Kualitas Air
Menurut Doi dan
Kohno (1985) dalam Kadarwati, L (1997),
dalam pemeliharaan kakap merah (larva dan dewasa) dibutuhkan lingkungan dengan
kualitas air yang baik, antara lain :
Suhu berkisar 28-31o C, oksigen terlarut (DO) berkisar 5-7
ppm, amoniak < 0,1 ppm, dan nitrit
III.
METODE PELAKSANAAN
3.1 Tempat dan Waktu
Pelaksanaan
Penulisan Tugas Akhir (TA) ini disusun berdasarkan kegiatan Praktik Kerja Lapang tanggal 27 Februari - 27 April 2012 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan Tugas Akhir dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel
3. Alat dan Bahan Yang Digunakan Dalam Pembenihan Kakap Merah di BBPBL Lampung
Alat
|
Bahan
|
Skopnet
|
Ikan kuniran
|
Scrennet
|
Ever-e
|
Selang sipon
|
Kapsul spirulina
|
Bekerglass
|
Epicore LHF-1
|
Ember
|
Epicore LHF- 2
|
Gayung
|
Betadine
|
Akuarium
|
methylene blue
|
Baskom
|
Acriflafine
|
Bak
|
Artemia salina
|
Bak fiber kapasitas 3 ton, 10 ton dan 50 ton.
|
Copepoda
|
Sikat
|
Rotifera
|
Kain kasar
|
Diapanosoma
|
Sumber : (Praktik Kerja Lapang BBPBL,
2012)
3.3 Metode
Pelaksanaan
Metode pengambilan data yang dilaksanakan menggunakan dua
cara, yaitu:
3.3.1
Metode Primer
Metode primer adalah metode pengambilan data secara langsung
selama kegiatan Praktek Kerja Lapang di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut
(BBPBL) Lampung yang meliputi :
a) Persiapan media
Sebelum proses pemijahan terjadi, persiapan media merupakan
salah satu hal terpenting, dikarenakan pada saat pemijahan berlangsung induk
sangat membutuhkan tempat yang bersih, kondusif dan nyaman guna terhindarnya
serangan patogen terhadap induk maupun telur dari hasil pemijahan. Persiapan
media yang digunakan diantaranya dengan cara penyiraman bak fiber bulat
berkapasitas 50 m3 dengan larutan kaporit sebanyak 3-5 ppm,
penyiraman dilakukan secara merata sampai bak fiber terlapisi oleh larutan
kaporit. Setelah bak fiber didiamkan selama 2 jam, kemudian bak fiber disikat
sampai bersih agar lumut yang menempel pada dinding dan dasar bak fiber hilang.
Setelah itu bak dibilas menggunakan air bersih dan kemudian dikeringkan selama
2 hari. Setelah 2 hari dikeringkan
barulah bak fiber diisi air yang nantinya akan digunakan dalam proses
pemijahan.
b) Seleksi
induk
Seleksi induk dilaksanakan dengan tujuan agar larva atau
calon benih yang didapat memiliki nilai kualitas dan kuantitas yang baik.
Seleksi induk yang dilaksanakan diantaranya dengan cara menghitung bobot dan
panjang induk ikan kakap merah. Seleksi bobot induk kakap merah dilakukan
dengan cara meletakkan induk ke dalam timbangan yang sebelumnya induk telah
dibius dengan minyak cengkeh dengan dosis 1 ppm. Seleksi panjang induk
dilakukan dengan cara mengukur panjang tubuh induk kakap merah dimulai dari
ujung kepala sampai dengan pangkal ekor.
c)
Pemijahan
Proses pengamatan pemijahan induk kakap merah tidak
dilaksanakan namun menurut literatur pemijahan induk kakap merah terjadi pada
malam hari antara pukul 18.00 - 22.00 WIB. Pemijahan yang dilakukan secara
alami dengan cara memanipulasi lingkungan. Pada waktu pagi hari ketinggian air
diturunkan sampai 20 - 30 cm, dan pada waktu sore hari air dinaikkan sampai
lubang pemanenan telur menuju egg
colector dengan ketinggian 145 cm yang tidak lupa pada bagian mulut fiber
glass ditutup dengan jaring agar induk tidak melompat. Tujuan memanipulasi
lingkungan yaitu untuk merangsang induk kakap merah menggunakan fluktuasi suhu
agar induk mau memijah.
d) Pemanenan
telur
Telur dipanen pada waktu pagi hari dikarenakan suhu pada pagi
hari masih rendah, pemanenan dilakukan menggunakan skopnet dengan mata jaring
200 - 500 mikron, teknik pemanenan yang dilakukan dengan cara mengambil telur
yang hanya ada pada permukaan air pada egg
colector karena telur yang bagus adalah telur yang dilapisi oleh minyak
sehingga telur berada pada permukaan air.
e)
Derajat pembuahan (Fertilization Rate)
Perhitungan derajat penetasan kakap merah ini dilaksanakan
setelah telur selesai dipanen dan terkumpul dalam akuarium inkubator yang
diberi aerasi, metode pelaksanaannya
yaitu dengan mengangkat aerasi kemudian didiamkan selama beberapa saat,
kemudian telur yang mengendap di dasar akuarium disipon. Setelah penyiponan
selesai aerasi kembali dimasukkan ke akuarium inkubator dan kemudian dihitung
kembali. Perhitungan Fertiliszation Rate
menggunakan rumus di bawah ini :
FR= Jd/Jk x 100%
Sumber : (Saleh, Rachman. 2009)
FR= Jd/Jk x 100%
Sumber : (Saleh, Rachman. 2009)
Keterangan :
FR : Derajat pembuahan
Jd : Jumlah telur yang
dibuahi
Jk : Jumlah telur secara
keseluruhan
f)
Inkubasi telur
Inkubasi telur
dilakukan setelah pemanenan telur. Proses yang dilakukan adalah dengan cara memindahkan telur dari baskom
berkapasitas 5 liter ke dalam wadah berupa akuarium berkapasitas 90 liter.
Telur yang sudah dipanen dimasukkan ke dalam akuarium yang sudah diisi air
dengan volume 70 - 80 liter dan diberi aerasi yang cukup agar telur menyebar secara merata dan proses penghitugannya dapat berjalan secara
akurat.
g) Derajat
penetasan telur (Heatching Rate)
Perhitungan derajat penetasan larva kakap merah dilakukan
setelah telur diinkubasi selama 24 jam.
Sampel yang dihitung hanya berupa telur yang sudah menetas/ larva berbentuk
seperti jarum. Perhitungan Heatching Rate
yang dilakukan dengan rumus di bawah ini.
HR(%) = Pt/Po x 100%
HR(%) = Pt/Po x 100%
Sumber : (Saleh, Rachman. 2009)
Keterangan
:
HR : Derajat penetasan (%)
Pt : Jumlah telur yang menetas
Po :
Jumlah telur yang dibuahi
h) Pemeliharaan
larva
Pemeliharaan larva yang dilaksanakan meliputi pemberian pakan
yang berupa pakan alami dan pakan buatan dengan frekuensi untuk pakan alami 1
hari 2 kali, jumlah pakan yang diberikan untuk larva sebanyak 8 liter dengan
kepadatan 5-8 ind/ ml. Sedangkan untuk pakan buatan, jumlah yang diberikan
sebanyak 8 liter dengan dosis 20 ppm. Jenis pakan alami yang digunakan
diantaranya Nannocloropsis, Skeletonema,
Rotifera, Branchionus, Artemia salina, Copepoda, Diapanosoma, pakan yang
diberikan sesuai dengan umur dan bukaan mulut larva yang dipelihara, pakan
buatan yang digunakan dalam proses pemeliharaan larva diantaranya Epicore
LHF-1, Epicore LHF-2 dan Love Larva no 1. Selain itu setiap 5 hari sekali media
pemeliharaan diberi probiotik dengan dosis 0,625 ppt, adapun fungsi dari
probiotik ini adalah untuk menurunkan tingkat kekeruhan air pada media
pemeliharaan larva.
i)
Panen benih
Panen benih dilakukan pada umur 60 hari dengan cara memasang
happa bermata jaring 200-500 mikron dengan ukuran happa 100 cm x 30 cm x 30 cm
pada lubang outlet. Kemudian mempersiapkan media penampungan atau pendederan
yang telah diseting atau dipasang aerasi, pengisian air dan pemberian pakan
alami.
Sebelum dilakukan pemanenan, benih
dipuasakan atau tidak diberi pakan dengan tujuan agar benih tidak muntah dan
stress pada saat pemanenan. Setelah semuanya dipersiapkan barulah lubang outlet
dibuka secara perlahan, benih akan masuk ke dalam happa yang telah dipersiapkan
sebelumnya kemudian larva dipindahkan menuju bak pendederan dengan menggunakan
skopnet dan baskom, pemindahan ini dilakukan secara cepat dan hati-hati. Tingkat
kelangsungan hidup benih yang dipanen dihitung menggunakan rumus di bawah ini :
SR = Nt/No x 100%
Sumber : (Saleh, Rachman. 2009)
SR = Nt/No x 100%
Sumber : (Saleh, Rachman. 2009)
Keterangan :
SR : Tingkat kelangsungan
hidup
Nt : Jumlah ikan di akhir pemeliharaan
Nt : Jumlah ikan di akhir pemeliharaan
No : Jumlah ikan di awal pemeliharaan
3.3.2 Metode Sekunder
Metode sekunder
adalah metode pengambilan data dengan cara studi pustaka serta mengadakan interview/
tanya jawab kepada pembimbing lapang, teknisi serta karyawan setempat yang
memiliki keterkaitan dengan kegiatan pembenihan kakap merah.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Persiapan
media pemijahan
Media yang digunakan dalam proses pemijahan berupa bak beton berbentuk bulat dengan kapasitas 50 m3. Persiapan media yang dilakukan adalah dengan menyiram media pemeliharaan induk menggunakan larutan kaporit dengan dosis 3-5 ppm, hal tersebut sejalan dengan pendapat Supria dan Ruswantoro (2011) bahwa dosis pemakaian kaporit sebesar 4 ppm. Tujuan dari penyiraman tersebut adalah untuk menghilangkan lumut, patogen dan non patogen yang menempel pada dinding dan dasar bak pemeliharaan induk, penyiraman dilakukan secara merata sampai bak fiber terlapisi oleh larutan kaporit. Setelah bak fiber didiamkan selama 2 jam, kemudian bak fiber disikat sampai bersih agar lumut yang menempel pada dinding dan dasar bak fiber hilang. Setelah itu bak dibilas menggunakan air bersih dan kemudian dikeringkan selama 2 hari. Setelah 2 hari dikeringkan barulah bak fiber diisi air yang nantinya akan digunakan dalam proses pemijahan.
Media yang digunakan dalam proses pemijahan berupa bak beton berbentuk bulat dengan kapasitas 50 m3. Persiapan media yang dilakukan adalah dengan menyiram media pemeliharaan induk menggunakan larutan kaporit dengan dosis 3-5 ppm, hal tersebut sejalan dengan pendapat Supria dan Ruswantoro (2011) bahwa dosis pemakaian kaporit sebesar 4 ppm. Tujuan dari penyiraman tersebut adalah untuk menghilangkan lumut, patogen dan non patogen yang menempel pada dinding dan dasar bak pemeliharaan induk, penyiraman dilakukan secara merata sampai bak fiber terlapisi oleh larutan kaporit. Setelah bak fiber didiamkan selama 2 jam, kemudian bak fiber disikat sampai bersih agar lumut yang menempel pada dinding dan dasar bak fiber hilang. Setelah itu bak dibilas menggunakan air bersih dan kemudian dikeringkan selama 2 hari. Setelah 2 hari dikeringkan barulah bak fiber diisi air yang nantinya akan digunakan dalam proses pemijahan.
4.2
Pemeliharaan induk
Pemeliharaan induk kakap
merah di BBPBL Lampung diawali dengan pemberian pakan berupa ikan rucah segar. Ikan
yang digunakan dari jenis ikan kuniran dengan persentase pemberian pakan
sebesar 3 - 5 % dari bobot biomasa,
dengan frekuensi pemberian sebanyak 1 hari sekali pada pukul 08.00 WIB. Selain
itu pemberian ever-e dan spirulina diberikan setiap 2 kali dalam seminggu adapaun
kandungan yang dibutuhkan dari ever-e dan spirulina adalah vitamin C dan
vitamin E yang bertujuan untuk menjaga kondisi induk tetap prima dan mempercepat
proses pematangan telur. Adapun cara pemberiannya yakni kapsul yang berupa
ever-e/ spirulina disisipkan ke dalam insang ikan rucah kemudian diberikan
kepada induk ikan kakap, jumlah kapsul yang diberikan pada 30 ekor induk sebanyak 30 butir, hal tersebut sesuai dengan Wardoyo
(1990) dalam Supria dan Ruswantoro
(2011) bahwa vitamin E dapat mempercepat proses kematangan telur dan dapat
memperlancar kerja fungsi- fungsi sel kelamin dengan bertumbuhnya fungsi hormon
gonadotropin yaitu untuk mempercepat proses pematangan gonad.
Vitamin C pada multivitamin yang diberikan
pada induk kakap merah berperan dalam menjaga kondisi kesehatan induk terhadap
lingkungan yang kurang baik selain itu vitamin C dalam multivitamin yang
diterima oleh induk dapat ditransfer menuju sel telur dan disisipkan untuk
proses perkembangan embrio (Soliman., et
al. 1986 dalam Supria dan Ruswantoro. 2011).
Setelah kegiatan pemberian pakan selesai
dilakukan barulah media induk dibersihkan/ digosok menggunakan sikat panjang
dan saluran pembuangan dibuka. Penggantian air dilakukan setiap hari
menggunakan sistem sirkulasi dengan persentase
pergantian air sebesar 200 - 300%, debit
air di saluran inlet berkisar 5 liter/ detik. Kisaran bobot dan panjang induk kakap merah yang digunakan dalam proses
untuk induk jantan dengan bobot 2,4 kg - 4,9 kg dan panjang 49 cm - 64 cm,
untuk induk betina bobot yang digunakan antara 3,3 kg - 4,5 kg dan panjang 54
cm - 60 cm. Hal tersebut sependapat dengan Said (2012) bahwa bobot dan panjanh
yang digunakan untuk induk kakap merah jantan berkisar 1,6 kg - 4 kg dan
panjang 20 cm - 70 cm, untuk betina bobot yang digunakan 1,6 kg - 7 kg dan
panjang >70 cm.
4.3 Seleksi induk
Seleksi induk dilakukan pada
pagi hari yang sebelumnya induk telah dipuasakan, hal ini bertujuan untuk
menghindari ikan muntah dan stress pada saat dilakukan seleksi induk. Seleksi
induk dilakukan dengan pengurutan pada bagian perut/ strepping untuk menentukan
jantan dan betinanya, selain itu dilakukan pengukuran berat dan panjang induk
ikan.
Said (2012) berpendapat bahwa induk
kakap betina yang matang gonad ditandai dengan perut membuncit bila diraba akan
terasa lembek, warna tubuhnya kehitaman/ kelabu, lubang genitalnya terlihat
agak membuka dan memerah serta bila distriping keluar cairan kekuning-kuningan.
Sedangkan ciri induk jantan yang matang gonad warna tubuhnya semakin cerah dan
mengkilap, bila distriping keluar cairan putih susu (sperma). Hasil seleksi
induk kakap merah yang telah dilaksanakan dalam kegiatan Praktik Kerja Lapang
di BBPBL Lampung ditampilkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Seleksi Induk Kakap Merah di BBPBL Lampung.
|
No
|
Parameter
|
Satuan
|
Hasil pengukuran
|
Said (2012)
|
||
|
Jantan
|
Betina
|
Jantan
|
Betina
|
|||
|
1
|
Kisaran
bobot
|
Kg
|
2,4 - 4,9
|
3,3 – 4,5
|
1,6 – 4
|
1,6 -7
|
|
2
|
Rata-rata
bobot
|
Kg
|
3,5
|
3,9
|
-
|
-
|
|
3
|
Kisaran
panjang
|
Cm
|
49 – 64
|
54 – 60
|
20 – 70
|
> 70
|
|
4
|
Rata-rata
panjang
|
Cm
|
54,7
|
57,3
|
-
|
-
|
|
5
|
Rasio
|
Ekor
|
3
|
2
|
1
|
1
|
Sumber : (Praktik
Kerja Lapang BBPBL, 2012)
Dari Tabel 4 dapat
diketahui bahwa bobot dan panjang induk
yang digunakan dalam proses pemijahan kakap merah di BBPBL sudah memenuhi kriteria, namun perbandingan
antara jantan dan betina lebih besar 3 : 2, hal tersebut tentunya mempunyai
peluang yang besar dalam hal derajat pembuahan. Unus, F dan Sharifuddin Bin
Andy Omar (2010) menambahkan bahwa semakin berat bobot induk maka jumlah
fekunditasnya semakin banyak, untuk berat induk betina yang mencapai ukuran 3kg
fekunditasnya dapat mencapai 1-1,5 juta telur. Adapun jumlah induk kakap merah
yang dipijahkan sebanyak 27 ekor yang dapat dilihat pada Lampiran 2.
4.4 Pemijahan
Pemijahan kakap merah di BBPBL Lampung menggunakan
pada bak pemeliharaan yang merangkap bak pemijahan, proses pemijahannya terjadi
secara alami melalui rangsangan
manipulasi lingkungan yaitu menggunakan rangsangan suhu dengan cara menurunkan ketinggian air hingga mencapai 20
- 30 cm pada pagi hari dan pada sore hari ketinggian air dinaikkan kembali
seperti semula. Hal ini sejalan dengan Anonim
(2011) bahwa fluktuasi suhu air yang terjadi akan direspon oleh otak menuju hypotalamus yang kemudian disalurkan menuju
hypofisa setelah respon suhu tersebut
diproses oleh hypofisa kemudian hasil
dari proses tersebut dibawa menuju proses pematangan gonad, proses tersebut
merangsang induk untuk memijah.
Pengamatan pemijahan induk kakap merah tidak
dilakukan namun, menurut (Said, 2012) iduk akan memijah sore sampai malam hari
sekitar pukul 18.00 - 22.00 WIB. Pemijahan ditandai dengan terjadinya interaksi antara induk jantan dan betina, induk
betina terlebih dahulu mengeluarkan telur disusul dengan induk jantan
mengeluarkan sperma dan pembuahan terjadi diluar tubuh ikan.
4.5 Pemanenan telur
Telur yang sudah dibuahi akan keluar dengan sendirinya, ukuran telur
kakap merah mencapai 300-400 mikron, telur akan keluar dengan bantuan aliran
air menuju egg collector berukuran
125 cm x 50 cm x 75 cm dengan mata jaring 100 - 300 mikron. Kerangka dibuat
dengan pipa paralon berdiameter 1 inci berbentuk persegi panjang. Gambar egg collector dapat dilihat pada Gambar
2.
Sumber : (Praktek Kerja Lapang BBPBL, 2012)
Pemanenan telur dilakukan pada
pagi hari dengan harapan telur tidak rentan terhadap suhu tinggi, pada waktu
pemanenan aerasi pada bak induk dimatikan, hal tersebut dikarenakan sebagian
besar telur ikan air laut termasuk kakap bersifat mengapung pada permukaan air
sehingga memudahkan telur terbawa oleh aliran air menuju egg collector. Setelah telur berada dalam egg collector, telur dipanen menggunakan skopnet dengan ukuran
lubang 200 mikron dan ditampung di dalam baskom berkapasitas 5 liter yang sudah
berisi air laut. Telur yang sudah terkumpul kemudian dipindahkan ke dalam
akuarium inkubator berkapasitas 90 liter dan diberi aerasi yang cukup selama 24
jam dihitung dari peletakan telur kedalam akuarium. Jumlah telur dari hasil pemijahan ikan kakap
merah selama kegiatan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah Telur Dari Hasil Pemijahan
Kakap Merah di BBPBL Lampung.
|
Pemijahan ke-
|
Panen telur secara keseluruhan
(butir)
|
Telur yang dibuahi
(butir)
|
Fertilization Rate (%)
|
Hatching Rate (larva)
|
Hatching Rate (%)
|
|
1
|
2.160.000
|
1.134.000
|
52,5 %
|
180.000
|
15,8 %
|
|
2
|
90.000
|
36.000
|
40,0 %
|
0
|
0 %
|
|
3
|
612.000
|
306.000
|
50,0 %
|
162.000
|
52,9 %
|
|
4
|
1.548.000
|
918.000
|
59,3 %
|
486.000
|
52,9 %
|
|
5
|
1.962.000
|
846.000
|
43,1 %
|
468.000
|
55,3 %
|
Sumber : (Praktik Kerja Lapang di BBPBL,
2012).
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa
derajat pembuahan (Fertilization Rate)
dan derajat penetasan (Hatching Rate)
pemijahan kakap merah masih di bawah rata-rata bila dilihat dari pemeliharaan
sebelumnya antara bulan Juni - September 2007 yang menghasilkan derajat
pembuahan sebesar 65-70% dan derajat penetasan sebesar 70-80% (Supriya dan
Ruswantoro, 2011).
Pada kegiatan ini diperoleh hasil derajat
pembuahan dan derajat penetasan yang
rendah, hal tersebut dikarenakan oleh sebab-sebab berikut : pemberian
multivitamin (ever-e/ spirulina) kepada induk yang tidak sesuai jadwal, terjadi
pemadaman listrik dan tingkat keseragaman kematangan telur yang rendah. Hal
tersebut sependapat dengan Watanabe., et
al (1983) dalam Farhoud. A., et
al (2011) yang mengatakan bahwa kuantitas dan kualitas
pakan termasuk nutrien mikro diantaranya vitamin dan mineral merupakan faktor
penting keterkaitannya dengan kematangan gonad, jumlah telur yang diproduksi,
kualitas telur dan larva. Melianawati, R dan Restiana, W. A (2012) mengatakan bahwa kualitas telur merupakan sekumpulan sifat yang dimiliki
oleh telur, dimana sifat - sifat
tersebut dipengaruhi oleh kesehatan dan gizi pakan yang diterima oleh
induk. adapun penghitungan derajat pembuahan dan derajat penetasan dapat dilihat pada Lampiran 3.
Telur yang sudah dihitung derajat
pembuahan dan derajat penetasannya ditebar pada bak pemeliharaan larva. Hasil dari pemijahan ke- 1, 2, dan 3 dibuang
dikarenakan jumlah penetasan telur yang sedikit, sehingga penebaran larva yang
dilakukan menggunakan hasil dari pemijahan ke- 4 dan 5 yang memiliki jumlah
penetasan telur paling banyak, adapun dari jumlah larva secara keseluruhan
hanya diambil 500.000 larva untuk ditebar.
4.6 Pemeliharaan Larva
Sebelum larva dipindahkan menuju bak
pemeliharaan larva berkapasitas 10 m3, bak disikat dan dibilas menggunakan
air tawar kemudian dikeringkan selama 1 - 2 hari. Membersihkan bak dapat juga
dilakukan dengan cara memberi larutan Calcium
hypochlorite (kaporit) dengan dosis 150 ppm, larutan tersebut disiramkan
pada dinding dan dasar bak, selanjutnya dikeringkan selama 1 hari untuk
menghilangkan kaporit yang bersifat racun, setelah satu hari dikeringkan
barulah bak tersebut disikat dan dibilas.
Penebaran larva kakap merah dilakukan pada
malam hari dengan tujuan agar larva tidak rentan terhadap suhu tinggi. Pada
saat pemindahan larva dari akuarium kapasitas 90 liter menuju bak beton
kapasitas 10 m3 dilakukan setelah seting bak baik dari volume air,
penempatan aerasi, dan plastik penutup bak sudah tersedia.
Air media pemeliharaan larva yang bebas dari
pencemaran dimasukkan ke dalam bak dengan cara disaring menggunakan mesin
filter yang bertujuan untuk menghindari kotoran dan patogen yang terbawa oleh
air laut menuju media pemeliharaan. Untuk mensuplai oksigen bak dilengkapi
sistem aerasi dan batu aerasi yang diletakkan secara terpencar agar distribusi
oksigen tersebar secara merata dalam bak pemeliharaan larva.
Larva yang baru menetas mempunyai panjang
total 1,17 mm - 1,21 mm, menurut Melianawati, R dan Restiana, W. A (2012) mengungkapkan bahwa panjang total larva kakap merah mencapai 2,44 mm -
2,64 mm. Dari hasil pengamatan panjang total larva kakap merah ternyata kurang bagus,
hal tersebut dikarenakan beberapa faktor diantaranya ukuran telur yang kecil
dan tingkat kematangan gonad tidak merata. Beberapa faktor tersebut merupakan
timbal balik dari kesehatan dan nilai gizi pakan yang diterima oleh induk pada
saat pemeliharaan Melianawati, R dan Restiana, W. A (2012). Soliman., et al (1986) dalam Supria dan Ruswantoro (2011) menambahkan bahwa vitamin C
dalam pakan yang diterima oleh induk dapat ditransfer menuju sel telur yang nantinya
akan disiapkan untuk perkembangan embrio.
Padat penebaran pada saat kegiatan
berlangsung dari D0-D60 sebanyak 63 larva /liter dari
total tebar 500.000/ 8 m3 sedangkan standar yang sering digunakan
sebagai berikut D2 - D7 dalam bak pemeliharaan adalah 70
- 80 larva/ liter, pada D8 - D15 tingkat kepadatan
dikurangi menjadi 30 - 40 larva/ liter, setelah D16 kepadatan larva
diturunkan menjadi 20 - 30 larva/ liter.
4.7 Pemberian pakan
Pakan yang bergerak lebih
disukai oleh larva ikan sehingga pakan hidup sangat tepat untuk diberikan pada
larva ikan. Kurniastuty dan Puja (1992) menyatakan bahwa sebagian besar larva
ikan laut bersifat planktonis dan memberikan tanggapan yang cepat terhadap
pakan yang mudah dilihat karena gerakannya yang aktif dan warna yang menarik. Pakan
untuk arva ikan kakap merah yang dipelihara di Balai Besar Pengembangan
Budidaya Laut Lampung berupa pakan alami dan pakan buatan jenis Love Larva yang
memiliki protein kasar sebesar 48%, dan lemak kasar sebesar 10%. Kandungan
bahan dalam tiap pakan yang dipergunakan ditampilkan pada Lampiran 4. Sutarma., dkk (2004) dalam
Setiawan, Adi (2011) mengungkapkan bahwa untuk hasil yang optimal
pada kegiatan budidaya diperlukan pakan dengan kadar protein 47,5%, lemak 8,2%, serat kasar 8,54%, dan kalori total
2,963%. Jumlah pemberian pakan (Feeding Rate) dan frekuensi pemberian pakan (Feeding Frekuency) dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Jadwal
Pemberian Pakan Berdasarkan Umur Ikan.
|
Umur
|
Jenis pakan
|
Dosis pemberian
pakan
|
Frekuensi
pemberian pakan/ hari
|
|
D0-D12
|
Nannochloropsis sp
|
8-10 x 1.000
Sel/ ml
|
2 x
|
|
Skeletonema costatum
|
3-4 x 10.000
Sel/ ml
|
2 x
|
|
|
D2-D20
|
Epicore LHF-1
|
20 ml/ l (20
ppm)
|
4 x
|
|
D7-D30
|
Rotifera sp
|
8-15 ind/ ml
|
2 x
|
|
Branchionus plicatilis
|
5-7 ind/ ml
|
2 x
|
|
|
D15-D20
|
Artemia salina
|
11-20 ind/ ml
|
2 x
|
|
D15-D46
|
Epicore LHF-2
|
20 ml/ l (20
ppm)
|
4 x
|
|
D20-D30
|
Copepoda
|
15-20 ind/ ml
|
2 x
|
|
Diapanosoma
|
15-20 ind/ ml
|
2 x
|
|
|
Artemia salina dewasa
|
15-20 ind/ ml
|
2 x
|
|
|
D30-D37
|
Copepoda
|
15-20 ind/ ml
|
2 x
|
|
Diapanosoma
|
15-20 ind/ ml
|
2 x
|
|
|
Artemia salina dewasa (yang
sebelumya telah diberi pengkaya minyak ikan schoots)
|
15-20 ind/ ml
|
2 x
|
|
|
Pakan buatan Love Larva No 1
|
15-20 gram
|
1 x
|
|
|
D37-D60
|
Artemia salina dewasa
|
20-30 ind/ ml
|
2 x
|
|
Copepoda
|
20-30 ind/ ml
|
2 x
|
|
|
Pakan buatan Love Larva No 1 dan 2.
|
15-20 gram
|
3 x
|
Sumber : (Praktik Kerja Lapang BBPBL, 2012)
4.8 Pengelolaan air
Pengelolaan air yang baik dapat memberikan
dampak yang positif diantaranya pertumbuhan larva yang cepat dengan tingkat
kelulushidupan (Survival Rate) lebih
tinggi. Dalam hal ini yang terpenting adalah agar selalu mempertahankan
lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan dan kehidupan larva. Disamping itu
perubahan yang bersifat mendadak atau lingkungan yang tidak mendukung akan
mengakibatkan kematian larva, untuk menekan tingkat kematian, disamping perlu
diperhatikan masalah sanitasi dan pengaturan pakan yang seksama, perlu
diperhatikan juga pengelolaan air yang baik (Kungvankij., et al. 1986 dalam Kadarwati,
L. 1997).
Pada pemeliharaan larva kakap merah
penggantian air dilakukan secara kontinyu.
Selain pergantian air dilakukan juga pemberian probiotik berupa EPICIN-D dengan dosis 5 mg/
8 ton (0,625 ppt) setiap 5 hari sekali. Hasil pengamatan kualitas air bak
pemeliharaan larva kakap merah pada tanggal 28 Oktober 2011 - 11
Februari 2012 yang ditampilkan pada Tabel 7.
Tabel 7. Kisaran Kualitas Air Pemeliharaan Larva Kakap Merah di BBPBL Lampung
|
No
|
Parameter
|
Satuan
|
Nilai
|
Standar baku
|
|
1
|
Ph
|
-
|
6,69
|
7 - 8,5
|
|
2
|
Salinitas
|
ppt (gr/ l)
|
32
|
30 – 34
|
|
3
|
DO
|
ppm (mg/ l)
|
4,8
|
> 4
|
|
4
|
Suhu
|
oC
|
29,4
|
29 – 32
|
|
5
|
Nitrit (NO2)
|
ppm (mg/ l)
|
0,65
|
0,05
|
|
6
|
Nitrat (NO3)
|
ppm (mg/ l)
|
0,388
|
0,008
|
|
7
|
Amoniak (NH3)
|
ppm (mg/ l)
|
0,777
|
0,3
|
Sumber : (Praktik Kerja Lapang BBPBL, 2012)
Berdasarkan Tabel 7
dapat diketahui bahwa parameter kualitas air pH, suhu, DO dan salinitas masih
berada dalam batasan kisaran standar baku yang teleh ditetapkan oleh KepMen
Lingkungan Hidup tahun 2004. Sedangkan nitrit, nitrat dan amoniak melebihi
batas kisaran standar baku, hal ini disebabkan oleh adanya kepadatan yang
tinggi dimulai dari D8-D60 dikarenakan pada fase tersebut
tetap menggunakan kepadatan awal sebesar 63 larva /liter. Dengan kepadatan yang
tinggi sisa veses akan melimpah dan akan menimbulkan peningkatan kandungan
amoniak dalam media perairan.
4.9 Panen benih
Panen dilakukan pada larva umur 60 hari (D60)
yang sudah bisa dikatakan sebagai benih, pada pagi hari sebelum pemanenan
dilaksanakan ikan tidak diberi makan atau dipuasakan terlebih dahulu, hal ini
dimaksudkan agar ikan tidak mengalami muntah dan stress pada saat pemanenan.
Sebelum dilakukan pemanenan sarana dan prasarana telah disiapkan dimulai dari bak
penampungan yang sudah diisi air, pemasangan aerasi dan ketersediaan pakan
alami. Pakan yang tersedia dalam media penampungan ini bertujuan agar larva
yang sudah dipindah dapat langsung memperoleh makanan sehingga mendapat energi
untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Cara pemanenan larva yang dilakukan pertama-tama adalah
memasang happa berukuran 200-500 mikron meter pada bak penangkapan larva,
kemudian membuka saluran outlet media pemeliharaan. Air yang keluar bersamaan
dengan larva akan ditampung dalam happa yang telah dipasang sebelumnya, jika
larva dalam happa tersebut sudah banyak, dilakukan pengambilan larva menggunakan
baskom atau skopnet secara hati-hati dan dipindah menuju bak pendederan.
Jumlah
benih kakap merah yang dipanen sebanyak 3.000 (0,6%), hal tersebut dikarenakan
tidak dilakukannya penjarangan mulai dari D8-D60, semakin
lama pemeliharaan ukuran ikan baik panjang maupun bobot akan semakin bertambah
dengan demikian area dalam mendapatkan ruang gerak, oksigen dan makan semakin
sempit. Hutapea., et al. (2005) berpendapat
bahwa kepadatan yang tinggi dapat memicu persaingan memperebutkan ruang gerak,
makanan dan oksigen hal tersebut merupakan salah satu faktor pendorong
terjadinya mortalitas dan kanibalisme.
Pada pemijahan ke- 1, 2 dan 3 jumlah telur
yang menetas sangat sedikit, sehingga setelah dilakukan penghitungan derajat penetasan
larva dibuang. Adapun larva yang akan ditebar berasal dari pemijahan ke-4 dan 5
yang memiliki jumlah larva paling banyak namun hanya diambil sebanyak 500.000
dan sisanya dibuang. Fertilization Rate
dan Heatching Rate pada pemijahan ke-4
sebesar 59,3 % dan 52,9% pemijahan ke-5
sebesar 43,1% dan 55,3%. Penghitungan
dapat dilihat pada Lampiran 5.
DAFTAR PUSTAKA
Ahda, Alfida., Djoko Roedatino., Abdullah., Erigenius
Patongloan., Asmaniah., 2009. Peluang
Usaha Perikanan Budidaya. Direktorat Usaha Budidaya. Jakarta
Anonim. 2011. Hubungan Otak Ikan
Dengan Proses Pematangan Gonad (TKG). http://singgih.jigsy.com/entries/general/hubungan-otak-ikan-dengan
proses-pematangan-gonad-tkg. 8 Agustus 2012.
Aslianti, T dan Agus Priyono. 2009. Peningkatan Vitalitas dan Kelangsungan Hidup Benih Kerapu Lumpur
(Epinephelus coioides) Melalui Pakan Yang Diperkaya Dengan Vitamin C dan
Kalsium. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan. Vol. 19. Balai Besar Riset
Perikanan Budidaya Laut. Gondol-Bali.
Batara, R. J. 2008. Deskripsi
Morfologi Cacing Nematoda Pada Saluran Pencernaan Ikan Gurami (Osphronemus
gouramy) dan Ikan Kakap Merah (Lutjanus spp). Laporan Skripsi. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Cholik, F., Daulay. T., 1985. Artemia Salina (Kegunaan, Biologi dan Kulturnya). INFIS Manual
Seri. No.12.
Farhoudi, A., A. M. Abedian Kenari., R. M. Nazari and C. H.
Makhdoomi. 2011. Study of Body
Composition, Lipid and Fatty Acid Profile During Larval Development in Caspian
Sea Carp (Cyprinus carpio). Journal of Fisheries And Aquatic Science, 6:
417-428.
Fitri, A. D. P., Asriyanto, dan Y Asmara. 2004. Studi Pendahuluan Pengaruh Umpan Hidup dan
Mati Serta Jarak Umpan Terhadap Tingkah Laku Ikan Kakap Merah (Lutjanus
argentimaculatus). Unifersitas Diponegoro. Semarang.
Kadarwati, Lusia. 1997. Pengaruh
Perbedaan Kepadatan Larva Terhadap Kelulushidupan Larva Ikan Kakap Merah
(Lutjanus argentimaculatus forsskal) Umur 1-5 Hari. Laporan Skripsi.
Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Kurniastuty
dan Puja, Y.
1992. Mass Production of Rotifera
(Brachionus plicatilis) in Supplying Feed for Seabass. Buletin Budidaya
Laut. No. 5. p. 20-25
Kurniastuty. 1992. Produksi
Masal Rotrifera (Branchionus plicatilis) Untuk Menunjang Ketersediaan Pakan
Larva Kakap Putih. Bulletin Budidaya Laut Lampung. No.5. Halaman 20-23.
Kurniawan, B. A. 2001. Aplikasi
Metode Schaefer Terhadap Hasil Tangkap dan Pola Musim Penangkapan Ikan Kakap
Merah (Lutjanus spp) yang Didapatkan di PPN Pekalongan Jawa Tengah. Laporan
Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Melianawati, R dan Restiana Wisnu Aryati. 2012. Budidaya Kakap Merah
(Lutjanus sebae). Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 4, No. 1, Hal. 80-88.
Priyadi, A., Rendy Ginanjar., Asep Permana., dan Jacques
Slembrouck., 2009. Tingkat Densitas Larva
Botia (Chromobotia macracanthus) dalam Satuan Volume Air pada Akuarium Sistem
Resirkulasi. Balai Riset Budidaya Ikan Hias. Depok.
Purba, Resmayeti. 1994. Perkembangan
Awal Ikan Kakap Merah, Lutjanus argentimaculatus. Oseana, Volume XIX, No 3
: 11-20.
Redjeki, Sri. 1999. Budidaya
Rotifera (Brachionus plicatilis). Oseana, Volume XXIV No: 2. Serang.
Said, A. 2012. Budidaya
Ikan Kakap. Ganeca Exact. Halaman 19-23
Saleh, Rachman. 2009. Efektivitas
Kombinasi Aromatase Inhibitor, Anti-Dopamin dan Ovaprim Dalam Mempercepat
Pematangan Gonad dan Ovulasi Pada Ikan Sumatra (Puntius tetrazona).
Institut Pertanian Bogor. Bogor
Setiawan, adi. 2011. Pembesaran Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes
altivelis) dalam Keramba Jaring Apung di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut
Lampung. Laporan Tugas Akhir.
Politeknik Negeri Lampung. Bandar Lampung.
Sudjiharno. 2007. Budidaya
Fitoplankton dan Zooplankton. Seri Budidaya Laut No 9. Balai Besar
Pengembangan Budidaya Laut. Lampung.
Supria dan Ruswantoro. 2011. Pemijahan dan Pemeliharaan Larva dan Benih Kakap Merah Lutjanus
argentimaculatus. Buletin Budidaya Laut No. 22. Pesawaran. Lampung.
Supria dan Suciantoro. 2007.
Pengaruh Frekuensi Pemberian Pakan
Terhadap Pertumbuhan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus). Buletin
Budidaya Laut No. 22. Pesawaran. Lampung.
Supriya., M. Firdaus dan Arif Rahman Rivai. 2008. Pemilihan Pakan Alami Larva Kakap Merah
(Lutjanus argentimaculatus). Buletin Budidaya Laut No.24. Pesawaran. Lampung.
Thariq, M., Mustamin dan Dwi H. P., 2000. Biologi Zooplankton dalam Budidaya
Fitoplankton dan Zooplankton. Dirjen Perikanan Budidaya DKP. Lampung
Unus, F dan Sharifuddin Bin Andy Omar. 2010. Analisis Fekunditas dan Diameter Telur Ikan
Malalugis Biru (Decapterus macarellus Cuvier, 1833) di Perairan Kabupaten
Banggai Kepulauan, Propinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Ilmu Kelautan dan
Perikanan. Vol. 20. Universitas Muhammadyah Luwuk Banggai. Kabupaten Banggai
Kepulauan.
Wontek, R. 2012. Makanan
dan Kebiasaan Makan. http://dunia-budidaya.blogspot.com/2009/07/makanan-dan-kebiasaan-makan.html.
8 Agustus 2012.
Casino Games - Dr. MSD
BalasHapusA game of chance will be drawn and published by the same publisher. 진주 출장샵 서울특별 출장안마 Casino Game. A 경기도 출장안마 game of chance will 양주 출장안마 be drawn and 목포 출장안마 published by the same publisher. Casino Game. A game of chance will be